home lifestyle muslim

Takdim yang Fiqhiyah adalah Takdim yang Berakal

Selasa, 19 Mei 2026 - 13:49 WIB
Takdim yang Fiqhiyah adalah Takdim yang Berakal
Oleh: Fathor Rohman, M.Ag, Pemerhati Fikih Sosial

LANGIT7.ID-Secara historis, tradisi takdim berakar pada konsep keilmuan Islam klasik yang menempatkan guru bukan sekadar sebagai fasilitator transfer informasi, melainkan sebagai figur yang membawa dimensi barakah dalam proses pembelajaran. Zarnuji (2008) dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim menegaskan bahwa keberhasilan seorang murid dalam menguasai ilmu sangat bergantung pada kualitas hubungannya dengan guru termasuk sikap hormat, ketaatan, dan ketulusan niatnya.

Namun sayangnya, dalam kenyataan saat ini, makna luhur dari praktik penghormatan ini sering kali bergeser. Tidak sedikit yang menjadikannya sebagai alat eksploitasi simbolik atas nama agama. Terkadang seorang tokoh merasa bangga diperlakukan berlebihan hingga seolah mengharuskan murid-murid atau pengikutnya mencium kakinya sebagai bentuk pembaktian mutlak. Bahkan ada yang menjadikannya sebagai tolok ukur loyalitas, hingga terjebak dalam semangat kultus individu yang justru bertentangan dengan prinsip tawadhu dan kesederhanaan yang diajarkan Islam (Lihat Sunnatullah, NUonline).

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Dadang Kahmad, menyoroti pentingnya nilai takzim sebagai pilar utama akhlak umat Muslim. Takzim sendiri diartikan sebagai sikap menghormati, memuliakan, dan senantiasa menjaga sopan santun kepada sesama tanpa memandang rendah pihak mana pun. Melalui konsep ini, seseorang diajarkan untuk selalu melihat sisi mulia orang lain dibanding dirinya sendiri. Sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam, takzim berfungsi membentuk karakter umat, karena pada dasarnya Islam sama sekali tidak membenarkan tindakan saling merendahkan atau menghina.

Di sisi lain, Muhammadiyah mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam sikap mengkultuskan individu secara berlebihan, baik itu kepada nabi, guru, maupun ulama. Mengingat Nabi Muhammad sendiri adalah manusia biasa yang diutus untuk menerima wahyu, maka penyampaian kritik yang santun kepada guru atau ulama tetap diperbolehkan. Kuncinya adalah tetap mengutamakan etika dan tata krama agar tidak menyinggung perasaan orang lain.

Masalah mulai muncul ketika praktik takdim yang sejatinya bersifat spiritual dan pedagogis ini kehilangan pijakan teologisnya dan berubah menjadi fenomena sosio-psikologis yang lebih dekat dengan pengultusan. Pergeseran ini tidak selalu berlangsung tiba-tiba dan tidak selalu disadari oleh pelakunya sendiri baik kiai maupun santri. Inilah yang dimaksud dengan “kultus tanpa disadari”: sebuah proses gradual di mana batas antara penghormatan yang wajar dan kepatuhan buta perlahan-lahan terhapus.

Berkaitan hal ini, Imam Al-Ghazali sudah mewanti-wanti adanya orang-orang yang berpenampilan seolah-olah religius, mengenakan pakaian ala sufi, menunjukkan sikap tawadhu dan wajah penuh khusyuk, serta melontarkan kata-kata hikmah dan nasihat yang terdengar menyentuh:
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya