Kisah Piagam Mina Tahun 9 Hijriah: Dekrit Larangan Tawaf Telanjang Kaum Pagan di Kabah
Miftah yusufpati
Senin, 25 Mei 2026 - 03:30 WIB
Tanpa adanya dekret tegas yang dibacakan oleh Ali bin Abi Thalib, pelaksanaan Haji Perpisahan tidak akan pernah mencapai kesuciannya yang murni. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Lembah Mina pada bulan Zulhijah tahun kesembilan Hijriah menjadi saksi dari sebuah peristiwa yang mengubah jalannya sejarah peradaban dunia. Di bawah terik matahari gurun yang membakar, ribuan orang berkumpul dalam sebuah momentum yang dipenuhi ketegangan psikologis dan politik yang tinggi.
Jemaah yang hadir saat itu bukanlah sebuah kesatuan yang homogen; mereka adalah potret kontras dari sebuah transisi zaman, terdiri atas kaum Muslimin yang mulai mengonsolidasikan kekuatan dan kaum musyrik yang masih memegang teguh tradisi leluhur mereka.
Di tengah lautan manusia itulah, sebuah maklumat dibacakan dengan lantang, sebuah maklumat yang menandai berakhirnya era paganisme di tanah Arab untuk selamanya. Peristiwa ini merupakan bagian krusial dari persiapan menuju Haji Perpisahan atau Haji Wada.
Penulis dan sejarawan terkemuka, Muhammad Husain Haekal, dalam bukunya yang monumental, Sejarah Hidup Muhammad, yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, menguraikan fase penting ini dengan sangat tajam.
Pada tahun tersebut, Nabi Muhammad tidak memimpin rombongan haji secara langsung, melainkan mengutus sahabat utamanya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebagai amirul haji atau pemimpin jemaah. Namun, tak lama setelah kafilah Abu Bakar berangkat meninggalkan Madinah, turunlah wahyu yang membawa konsekuensi hukum dan politik yang radikal bagi masa depan Jazirah Arab.
Wahyu tersebut adalah bagian awal dari Surah At-Taubah, yang juga dikenal sebagai Surah Baraah (Pemutusan Hubungan). Menyadari pentingnya isi wahyu ini, Nabi Muhammad segera mengutus sepupu sekaligus menantunya, Ali bin Abi Thalib, untuk mengejar rombongan Abu Bakar.
Ali membawa misi khusus atas perintah langsung dari Rasulullah: membacakan ayat-ayat tersebut di hadapan seluruh kabilah Arab yang sedang berkumpul menunaikan manasik haji di Mina.
Jemaah yang hadir saat itu bukanlah sebuah kesatuan yang homogen; mereka adalah potret kontras dari sebuah transisi zaman, terdiri atas kaum Muslimin yang mulai mengonsolidasikan kekuatan dan kaum musyrik yang masih memegang teguh tradisi leluhur mereka.
Di tengah lautan manusia itulah, sebuah maklumat dibacakan dengan lantang, sebuah maklumat yang menandai berakhirnya era paganisme di tanah Arab untuk selamanya. Peristiwa ini merupakan bagian krusial dari persiapan menuju Haji Perpisahan atau Haji Wada.
Penulis dan sejarawan terkemuka, Muhammad Husain Haekal, dalam bukunya yang monumental, Sejarah Hidup Muhammad, yang diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, menguraikan fase penting ini dengan sangat tajam.
Pada tahun tersebut, Nabi Muhammad tidak memimpin rombongan haji secara langsung, melainkan mengutus sahabat utamanya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, sebagai amirul haji atau pemimpin jemaah. Namun, tak lama setelah kafilah Abu Bakar berangkat meninggalkan Madinah, turunlah wahyu yang membawa konsekuensi hukum dan politik yang radikal bagi masa depan Jazirah Arab.
Wahyu tersebut adalah bagian awal dari Surah At-Taubah, yang juga dikenal sebagai Surah Baraah (Pemutusan Hubungan). Menyadari pentingnya isi wahyu ini, Nabi Muhammad segera mengutus sepupu sekaligus menantunya, Ali bin Abi Thalib, untuk mengejar rombongan Abu Bakar.
Ali membawa misi khusus atas perintah langsung dari Rasulullah: membacakan ayat-ayat tersebut di hadapan seluruh kabilah Arab yang sedang berkumpul menunaikan manasik haji di Mina.