Nabi Muhammad Sampaikan Deklarasi Hak Asasi Manusia Global dalam Khotbah Haji Perpisahan di Arafah
Miftah yusufpati
Rabu, 27 Mei 2026 - 04:15 WIB
Khotbah ini bukan sekadar nasehat keagamaan, melainkan sebuah dokumen konstitusi negara yang mengikat secara hukum publik. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Lembah pasir yang membentang di selatan Makkah menjadi saksi dari sebuah peristiwa hukum dan sosiologis paling radikal dalam sejarah peradaban Arab. Setelah menempuh perjalanan spiritual yang melelahkan, gelombang jemaah yang diperkirakan mencapai ratusan ribu jiwa mulai memasuki fase inti dari ibadah haji.
Tepat pada hari kedelapan Zulhijah, yang dikenal luas dalam sistem kalender Islam sebagai Hari Tarwiyah, Nabi Muhammad bergerak meninggalkan Makkah menuju Mina. Di sana, beliau mendirikan tenda dan menetap selama sehari semalam guna menunaikan kewajiban salat lima waktu secara berjemaah.
Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya ilmiah tepercaya yang ditulis oleh sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dinamika pergerakan massa ini diurai dengan sangat dramatis.
Ketika fajar menyingsing pada hari Arafah, pasca-menunaikan salat subuh, Nabi Muhammad segera menunggangi unta kesayangannya yang bernama al-Qashwa.
Di bawah pancaran sinar matahari pagi yang mulai tersembul di balik bukit batu, beliau mengarahkan rombongan menuju Gunung Arafah.
Di belakang beliau, arus manusia mengalir bagaikan lautan putih yang tidak bertepi. Ribuan kaum Muslimin bergerak mengelilingi pemimpin mereka; sebagian mengumandangkan talbiah dengan khidmat, sementara sebagian lainnya mengumandangkan takbir secara bersahut-sahutan. Nabi mendengarkan dinamika tersebut dengan penuh kearifan tanpa melarang satu pun dari ekspresi teologis mereka.
Sesuai dengan permintaan khusus dari Rasulullah, sebuah kemah dari kulit telah dipasang di Namira, sebuah desa kecil yang terletak di sisi timur Arafah. Nabi beristirahat di sana hingga matahari mulai tergelincir ke arah barat.
Tepat pada hari kedelapan Zulhijah, yang dikenal luas dalam sistem kalender Islam sebagai Hari Tarwiyah, Nabi Muhammad bergerak meninggalkan Makkah menuju Mina. Di sana, beliau mendirikan tenda dan menetap selama sehari semalam guna menunaikan kewajiban salat lima waktu secara berjemaah.
Dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya ilmiah tepercaya yang ditulis oleh sejarawan terkemuka Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya, dinamika pergerakan massa ini diurai dengan sangat dramatis.
Ketika fajar menyingsing pada hari Arafah, pasca-menunaikan salat subuh, Nabi Muhammad segera menunggangi unta kesayangannya yang bernama al-Qashwa.
Di bawah pancaran sinar matahari pagi yang mulai tersembul di balik bukit batu, beliau mengarahkan rombongan menuju Gunung Arafah.
Di belakang beliau, arus manusia mengalir bagaikan lautan putih yang tidak bertepi. Ribuan kaum Muslimin bergerak mengelilingi pemimpin mereka; sebagian mengumandangkan talbiah dengan khidmat, sementara sebagian lainnya mengumandangkan takbir secara bersahut-sahutan. Nabi mendengarkan dinamika tersebut dengan penuh kearifan tanpa melarang satu pun dari ekspresi teologis mereka.
Sesuai dengan permintaan khusus dari Rasulullah, sebuah kemah dari kulit telah dipasang di Namira, sebuah desa kecil yang terletak di sisi timur Arafah. Nabi beristirahat di sana hingga matahari mulai tergelincir ke arah barat.