BRIN Kembangkan AI untuk Bongkar Pemalsuan Pangan, Dari Madu Oplosan hingga Daging Berkedok Sapi
Tim langit 7
Jum'at, 29 Mei 2026 - 13:54 WIB
BRIN Kembangkan AI untuk Bongkar Pemalsuan Pangan, Dari Madu Oplosan hingga Daging Berkedok Sapi
LANGIT7.ID-Jakarta; Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat sistem pengawasan pangan nasional melalui pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan dan analisis ilmiah tingkat lanjut. Langkah ini ditempuh untuk mengungkap berbagai praktik kecurangan pangan yang selama ini sulit dideteksi dengan metode konvensional.
Melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP), BRIN mengembangkan sejumlah metode yang mampu mengidentifikasi pemalsuan, pencampuran bahan, hingga pelabelan palsu pada berbagai produk pangan yang beredar di masyarakat.
Peneliti PRTPP BRIN, Laila Rahmawati, menjelaskan bahwa pendekatan terbaru yang dikembangkan lembaganya memanfaatkan teknologi machine learning untuk mempercepat proses identifikasi penyimpangan pada produk pangan.
“Dengan AI, kami bisa membangun database referensi ribuan sampel pangan. Ketika ada produk baru, sistem bisa membandingkan pola kimianya secara real-time dan memberi peringatan jika ada penyimpangan,” jelas Laila dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/5/2026).
Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya BRIN menghadapi praktik food fraud atau manipulasi pangan yang dilakukan secara sengaja demi memperoleh keuntungan ekonomi. Menurut Laila, persoalan ini telah berkembang menjadi ancaman sistemik karena tidak hanya merugikan konsumen dari sisi ekonomi, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan, melanggar prinsip kehalalan, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap industri pangan.
Sejumlah kasus yang kerap ditemukan meliputi madu yang dicampur sirup gula, kopi murni yang dicampur biji jagung atau kedelai, daging non-halal yang disamarkan sebagai daging sapi, hingga minyak goreng yang dipalsukan menggunakan campuran lemak murah.
Untuk mengidentifikasi berbagai bentuk kecurangan tersebut, BRIN mengombinasikan metode konvensional dengan teknologi analisis modern. Uji organoleptik dan pengujian kimia dasar masih digunakan sebagai tahap awal pemeriksaan. Namun, fokus riset kini diarahkan pada pemanfaatan instrumen berteknologi tinggi.
Melalui Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan (PRTPP), BRIN mengembangkan sejumlah metode yang mampu mengidentifikasi pemalsuan, pencampuran bahan, hingga pelabelan palsu pada berbagai produk pangan yang beredar di masyarakat.
Peneliti PRTPP BRIN, Laila Rahmawati, menjelaskan bahwa pendekatan terbaru yang dikembangkan lembaganya memanfaatkan teknologi machine learning untuk mempercepat proses identifikasi penyimpangan pada produk pangan.
“Dengan AI, kami bisa membangun database referensi ribuan sampel pangan. Ketika ada produk baru, sistem bisa membandingkan pola kimianya secara real-time dan memberi peringatan jika ada penyimpangan,” jelas Laila dalam keterangannya, dikutip Jumat (29/5/2026).
Teknologi tersebut menjadi bagian dari upaya BRIN menghadapi praktik food fraud atau manipulasi pangan yang dilakukan secara sengaja demi memperoleh keuntungan ekonomi. Menurut Laila, persoalan ini telah berkembang menjadi ancaman sistemik karena tidak hanya merugikan konsumen dari sisi ekonomi, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan, melanggar prinsip kehalalan, serta menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap industri pangan.
Sejumlah kasus yang kerap ditemukan meliputi madu yang dicampur sirup gula, kopi murni yang dicampur biji jagung atau kedelai, daging non-halal yang disamarkan sebagai daging sapi, hingga minyak goreng yang dipalsukan menggunakan campuran lemak murah.
Untuk mengidentifikasi berbagai bentuk kecurangan tersebut, BRIN mengombinasikan metode konvensional dengan teknologi analisis modern. Uji organoleptik dan pengujian kimia dasar masih digunakan sebagai tahap awal pemeriksaan. Namun, fokus riset kini diarahkan pada pemanfaatan instrumen berteknologi tinggi.