Pemakaman Nabi Muhammad Selesai Dilaksanakan Tengah Malam dengan Menggunakan Metode Lahad Madinah
Miftah yusufpati
Rabu, 03 Juni 2026 - 16:00 WIB
Ketakutan kaum Muslimin di Madinah terhadap masa depan pasca-kenabian dinilai sangat beralasan berdasarkan indikator stabilitas regional saat itu. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Momen penutupan liang lahat Nabi Muhammad tidak serta-merta membawa ketenangan absolut bagi peradaban yang ditinggalkannya. Begitu jemaah pria, wanita, dan anak-anak selesai memberikan penghormatan terakhir di kamar Aisyah dengan hati yang remuk-redam, sebuah realitas politik yang masif dan berbahaya langsung menghadang pemerintahan baru di bawah Khalifah Abu Bakar al-Siddiq.
Kematian biologis sang nabi bukan sekadar peristiwa duka domestik, melainkan sebuah guncangan tektonik yang menguji fondasi integrasi nasional Jazirah Arab yang baru saja disatukan.
Ketakutan kaum Muslimin di Madinah terhadap masa depan pasca-kenabian dinilai sangat beralasan berdasarkan indikator stabilitas regional saat itu. Informasi mengenai wafatnya Rasulullah menyebar cepat ke kabilah-kabilah Arab di sekitar kota dan memicu reaksi berantai.
Kelompok minoritas Yahudi dan Nasrani di sekitar wilayah perbatasan langsung meningkatkan kewaspadaan militer dan intelijen mereka.
Di sisi lain, penyakit sosial berupa kemunafikan politik (political hypocrisy) mulai bermunculan di dalam kota, sementara iman kabilah-kabilah badui yang baru saja tunduk secara nominal kepada Madinah mulai mengalami guncangan hebat.
Eskalasi krisis ini terekam secara rigid dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya historiografi kredibel yang ditulis oleh sejarawan asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.
Berdasarkan catatan Haekal, faksi-faksi politik di Kota Mekah bahkan sudah berada dalam posisi siap melakukan pembangkangan total untuk memisahkan diri dari kedaulatan Madinah. Situasi keamanan di Mekah begitu mencekam hingga Attab bin Asid, wakil gubernur yang ditunjuk oleh Nabi, merasa terancam keselamatannya dan terpaksa melakukan isolasi diri dengan tidak menampakkan diri di ruang publik.
Kematian biologis sang nabi bukan sekadar peristiwa duka domestik, melainkan sebuah guncangan tektonik yang menguji fondasi integrasi nasional Jazirah Arab yang baru saja disatukan.
Ketakutan kaum Muslimin di Madinah terhadap masa depan pasca-kenabian dinilai sangat beralasan berdasarkan indikator stabilitas regional saat itu. Informasi mengenai wafatnya Rasulullah menyebar cepat ke kabilah-kabilah Arab di sekitar kota dan memicu reaksi berantai.
Kelompok minoritas Yahudi dan Nasrani di sekitar wilayah perbatasan langsung meningkatkan kewaspadaan militer dan intelijen mereka.
Di sisi lain, penyakit sosial berupa kemunafikan politik (political hypocrisy) mulai bermunculan di dalam kota, sementara iman kabilah-kabilah badui yang baru saja tunduk secara nominal kepada Madinah mulai mengalami guncangan hebat.
Eskalasi krisis ini terekam secara rigid dalam buku Sejarah Hidup Muhammad, sebuah karya historiografi kredibel yang ditulis oleh sejarawan asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.
Berdasarkan catatan Haekal, faksi-faksi politik di Kota Mekah bahkan sudah berada dalam posisi siap melakukan pembangkangan total untuk memisahkan diri dari kedaulatan Madinah. Situasi keamanan di Mekah begitu mencekam hingga Attab bin Asid, wakil gubernur yang ditunjuk oleh Nabi, merasa terancam keselamatannya dan terpaksa melakukan isolasi diri dengan tidak menampakkan diri di ruang publik.