Fadli Zon Resmikan Pameran Nusa Wastra 2026, Hadirkan 107 Koleksi Kain Tradisional
Tim langit 7
Sabtu, 06 Juni 2026 - 08:15 WIB
Fadli Zon Resmikan Pameran Nusa Wastra 2026, Hadirkan 107 Koleksi Kain Tradisional
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, meresmikan Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 bertajuk “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” di Museum Negeri Sonobudoyo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pameran yang berlangsung hingga 29 Juli 2026 tersebut menampilkan kekayaan wastra Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia sebagai representasi identitas budaya, nilai filosofis, dan kearifan lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan bersama dengan Pemerintah Daerah DIY, serta beberapa pihak terkait. Melalui pendekatan kolaboratif yang menghadirkan koleksi kain tradisional dari berbagai museum negeri provinsi se-Indonesia, pameran ini menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan pelestarian wastra Nusantara, sekaligus memperkuat peran museum sebagai ruang belajar dan destinasi wisata budaya.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah DIY, khususnya Museum Negeri Sonobudoyo, serta seluruh museum yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan pameran nasional kolaboratif tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ekosistem permuseuman Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya bangsa kepada masyarakat yang lebih luas.
Beliau menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dengan lebih dari 1.340 kelompok etnis yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau. Keragaman tersebut tercermin dalam berbagai bentuk wastra Nusantara yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung filosofi, nilai, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Keberagaman budaya bangsa kita dapat terlihat dari batik, songket, tenun, ikat, hingga berbagai bahan dan medium lain yang begitu indah dan kaya. Di balik setiap ekspresi budaya tersebut tersimpan filosofi, harapan, bahkan doa,” ujar dia dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).
Menbud menegaskan bahwa wastra merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai strategis, baik sebagai identitas budaya maupun sebagai instrumen diplomasi budaya di tingkat internasional. Menurutnya, pengakuan dunia terhadap batik dan kebaya menunjukkan bahwa wastra Indonesia memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat dalam peradaban global.
Beliau juga menyoroti besarnya potensi ekonomi budaya yang dimiliki sektor wastra. Selain menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat, wastra memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai penggerak industri budaya dan ekonomi kreatif yang memberikan manfaat bagi para perajin, pembatik, penenun, dan komunitas budaya di berbagai daerah.
“Wastra dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang sangat efektif karena mudah dikenali dan menjadi bagian dari soft power Indonesia. Yang tidak kalah penting, wastra juga merupakan elemen dari industri budaya dan ekonomi budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” tambah Menbud.
Pameran ini merupakan hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan bersama dengan Pemerintah Daerah DIY, serta beberapa pihak terkait. Melalui pendekatan kolaboratif yang menghadirkan koleksi kain tradisional dari berbagai museum negeri provinsi se-Indonesia, pameran ini menjadi ruang apresiasi, edukasi, dan pelestarian wastra Nusantara, sekaligus memperkuat peran museum sebagai ruang belajar dan destinasi wisata budaya.
Dalam sambutannya, Menbud Fadli Zon menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah DIY, khususnya Museum Negeri Sonobudoyo, serta seluruh museum yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan pameran nasional kolaboratif tersebut. Menurutnya, kegiatan ini menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat ekosistem permuseuman Indonesia sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya bangsa kepada masyarakat yang lebih luas.
Beliau menjelaskan bahwa Indonesia memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dengan lebih dari 1.340 kelompok etnis yang tersebar di lebih dari 17 ribu pulau. Keragaman tersebut tercermin dalam berbagai bentuk wastra Nusantara yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga mengandung filosofi, nilai, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. “Keberagaman budaya bangsa kita dapat terlihat dari batik, songket, tenun, ikat, hingga berbagai bahan dan medium lain yang begitu indah dan kaya. Di balik setiap ekspresi budaya tersebut tersimpan filosofi, harapan, bahkan doa,” ujar dia dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).
Menbud menegaskan bahwa wastra merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai strategis, baik sebagai identitas budaya maupun sebagai instrumen diplomasi budaya di tingkat internasional. Menurutnya, pengakuan dunia terhadap batik dan kebaya menunjukkan bahwa wastra Indonesia memiliki daya tarik dan relevansi yang kuat dalam peradaban global.
Beliau juga menyoroti besarnya potensi ekonomi budaya yang dimiliki sektor wastra. Selain menjadi bagian dari ekspresi budaya masyarakat, wastra memiliki peluang untuk terus dikembangkan sebagai penggerak industri budaya dan ekonomi kreatif yang memberikan manfaat bagi para perajin, pembatik, penenun, dan komunitas budaya di berbagai daerah.
“Wastra dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang sangat efektif karena mudah dikenali dan menjadi bagian dari soft power Indonesia. Yang tidak kalah penting, wastra juga merupakan elemen dari industri budaya dan ekonomi budaya yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” tambah Menbud.