Menolak Skeptisisme Positivistik: Menggugat Keangkuhan Intelektual Terhadap Eksistensi Tuhan
Miftah yusufpati
Senin, 08 Juni 2026 - 03:30 WIB
Keimanan di dalam Islam dengan demikian tidak lahir dari ketidaktahuan. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Metodologi sains modern yang bertumpu pada positivisme logis sering kali menerapkan standar pembuktian yang tidak proporsional dalam domain teologi. Komunitas ilmiah sekuler cenderung menolak eksistensi Pencipta dengan dalih bahwa zat-Nya tidak dapat diindra, tidak dapat diukur di dalam laboratorium, serta tidak dapat dijangkau oleh perangkat kognitif manusia.
Pendekatan ini memproduksi sebuah keangkuhan intelektual yang mengondisikan manusia untuk menolak percaya pada kebenaran transendental sebelum mereka mampu menyingkap dan mengetahui zat-Nya secara material.
Padahal, dalam operasional sains praktis sehari-hari, para ilmuwan secara reguler menerima dan memvalidasi keberadaan berbagai entitas fisik hanya berdasarkan pengamatan terhadap efek atau bekas yang ditimbulkannya, tanpa pernah melihat bentuk fisik zatnya secara langsung.
Paradoks validasi ini menjadi basis kritik yang sangat tajam di dalam struktur pemikiran Islam. Fenomena ini dianalisis secara mendalam dalam buku Sejarah Hidup Muhammad. Buku teks historiografi standar yang memiliki bobot akademis tinggi ini ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.
Melalui cetakan kelima yang dirilis pada tahun 1980, Haekal menyajikan analogi fisika yang sangat relevan: hingga detik ini manusia tidak pernah mampu menangkap atau melihat dengan mata kepala sendiri mengenai apa sebenarnya zat listrik itu. Manusia hanya menyaksikan bekas, dampak, dan manifestasi kinetiknya berupa cahaya lampu atau pergerakan motor mekanis.
Hal yang sama berlaku pada konsep gelombang mikro atau medium eter di ruang hampa. Meskipun zatnya tidak kasat mata, para insinyur telekomunikasi telah menentukan secara matematis bahwa gelombang tersebut bekerja memindahkan data suara serta gambar melintasi jarak ribuan kilometer.
Pengaruh, dampak sektoral, dan bekas yang ditinggalkan oleh fenomena-fenomena fisik tersebut dinilai sudah lebih dari cukup bagi rasio manusia untuk memercayai adanya listrik dan eter.
Pendekatan ini memproduksi sebuah keangkuhan intelektual yang mengondisikan manusia untuk menolak percaya pada kebenaran transendental sebelum mereka mampu menyingkap dan mengetahui zat-Nya secara material.
Padahal, dalam operasional sains praktis sehari-hari, para ilmuwan secara reguler menerima dan memvalidasi keberadaan berbagai entitas fisik hanya berdasarkan pengamatan terhadap efek atau bekas yang ditimbulkannya, tanpa pernah melihat bentuk fisik zatnya secara langsung.
Paradoks validasi ini menjadi basis kritik yang sangat tajam di dalam struktur pemikiran Islam. Fenomena ini dianalisis secara mendalam dalam buku Sejarah Hidup Muhammad. Buku teks historiografi standar yang memiliki bobot akademis tinggi ini ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.
Melalui cetakan kelima yang dirilis pada tahun 1980, Haekal menyajikan analogi fisika yang sangat relevan: hingga detik ini manusia tidak pernah mampu menangkap atau melihat dengan mata kepala sendiri mengenai apa sebenarnya zat listrik itu. Manusia hanya menyaksikan bekas, dampak, dan manifestasi kinetiknya berupa cahaya lampu atau pergerakan motor mekanis.
Hal yang sama berlaku pada konsep gelombang mikro atau medium eter di ruang hampa. Meskipun zatnya tidak kasat mata, para insinyur telekomunikasi telah menentukan secara matematis bahwa gelombang tersebut bekerja memindahkan data suara serta gambar melintasi jarak ribuan kilometer.
Pengaruh, dampak sektoral, dan bekas yang ditinggalkan oleh fenomena-fenomena fisik tersebut dinilai sudah lebih dari cukup bagi rasio manusia untuk memercayai adanya listrik dan eter.