home wirausaha syariah

Abdurrahman bin Auf (RA): Bagaimana Sahabat Terkaya dalam Islam Membangun Kekayaannya

Senin, 08 Juni 2026 - 05:01 WIB
Abdurrahman bin Auf (RA): Bagaimana Sahabat Terkaya dalam Islam Membangun Kekayaannya
LANGIT7.ID-Jakarta; Kebanyakan umat Islam saat ini kurang memiliki literasi keuangan, atau mereka mendapatkan pendidikan keuangan dari orang non-Muslim seperti Dave Ramsey, Robert Kiyosaki (penulis Rich Dad Poor Dad), atau yang lebih parah lagi, dari TikToker. Sungguh disayangkan, karena banyak sekali tokoh Muslim dari sejarah Islam yang kaya akan pelajaran yang bisa kita ambil.

Salah satu tokoh Muslim tersebut adalah Abdurrahman bin Auf (RA), yang terkenal sebagai salah satu sahabat terdekat dan terkaya Nabi Muhammad ﷺ. Namun sangat sedikit orang yang mengetahui delapan rahasia membangun kekayaan dari kehidupannya yang telah kami teliti dari sumber-sumber klasik, seperti Thabaqat Ibnu Sa'ad, yang mengisahkan hidupnya lengkap dengan cerita-cerita nyata [1].

Beberapa di antaranya bahkan merupakan strategi sederhana yang bisa langsung ditiru untuk menjadi lebih kaya saat ini, di zaman modern sekalipun. Jadi, pastikan Anda membaca sampai akhir.

Namun pertama-tama, siapakah Abdurrahman bin Auf (RA)?

Lahir pada tahun 581 M di Makkah, Abdurrahman bin Auf (RA) terkenal sebagai salah satu sahabat terdekat dan terkaya Nabi Muhammad ﷺ. Beliau juga termasuk salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga oleh Nabi ﷺ [2].

Tidak banyak tokoh di dunia keuangan modern yang dapat menandingi skala kekayaan Abdurrahman bin Auf (RA). Beliau dikenal pernah memasuki Madinah dengan kafilah yang terdiri dari 700 unta bermuatan barang. Satu ekor unta pada masa itu setara dengan mobil super di zaman kita, dan semua itu beliau sedekahkan. Kisah-kisah tentang kedermawanannya sangatlah legendaris. Namun di balik kedermawanan itu, terdapat strategi, ketekunan, dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Jadi, mari kita bahas lebih dalam. Dimulai dengan salah satu rahasia kekayaan dari kehidupannya yang paling sering terabaikan.

1. Memilih Kemandirian daripada Ketergantungan
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya