Rupiah Melemah ke Rp17.988 per Dolar AS, Konflik Iran dan Lonjakan Inflasi AS Tekan Pasar
Nabil
Kamis, 11 Juni 2026 - 15:34 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.988 per Dolar AS, Konflik Iran dan Lonjakan Inflasi AS Tekan Pasar
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat memanasnya konflik di Timur Tengah serta menguatnya ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat.
Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 44 poin ke level Rp17.988 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.944 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat tertekan lebih dalam dengan pelemahan mencapai 60 poin sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.
Pelemahan rupiah terjadi ketika pelaku pasar mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada proyeksi terbaru Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terkait kondisi fiskal Indonesia.
OECD memperkirakan defisit APBN Indonesia pada 2026 akan melebar hingga mencapai 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dibanding target pemerintah sebesar 2,7% dari PDB. Proyeksi tersebut juga meningkat dibanding realisasi defisit 2025 yang berada di level 2,9% dari PDB.
Pelebaran defisit diperkirakan dipicu kenaikan harga komoditas energi global, khususnya minyak mentah. OECD memperkirakan harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan defisit anggaran sekitar 0,6% dari PDB melalui kenaikan beban subsidi bahan bakar minyak apabila kebijakan penahanan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan.
Meski demikian, OECD menilai pemerintah Indonesia masih menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas aman 3% dari PDB. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah diperkirakan perlu menerapkan berbagai langkah kompensasi, termasuk efisiensi belanja negara dan kemungkinan penerapan pajak durian runtuh atau windfall taxes terhadap eksportir komoditas.
Dari sisi makroekonomi, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,7% pada 2026 sebelum kembali meningkat ke level 5,0% pada 2027. Perlambatan tersebut dipengaruhi tingginya biaya energi dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang berpotensi menekan konsumsi serta investasi.
Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 44 poin ke level Rp17.988 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.944 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat tertekan lebih dalam dengan pelemahan mencapai 60 poin sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.
Pelemahan rupiah terjadi ketika pelaku pasar mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada proyeksi terbaru Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terkait kondisi fiskal Indonesia.
OECD memperkirakan defisit APBN Indonesia pada 2026 akan melebar hingga mencapai 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dibanding target pemerintah sebesar 2,7% dari PDB. Proyeksi tersebut juga meningkat dibanding realisasi defisit 2025 yang berada di level 2,9% dari PDB.
Pelebaran defisit diperkirakan dipicu kenaikan harga komoditas energi global, khususnya minyak mentah. OECD memperkirakan harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan defisit anggaran sekitar 0,6% dari PDB melalui kenaikan beban subsidi bahan bakar minyak apabila kebijakan penahanan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan.
Meski demikian, OECD menilai pemerintah Indonesia masih menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas aman 3% dari PDB. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah diperkirakan perlu menerapkan berbagai langkah kompensasi, termasuk efisiensi belanja negara dan kemungkinan penerapan pajak durian runtuh atau windfall taxes terhadap eksportir komoditas.
Dari sisi makroekonomi, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,7% pada 2026 sebelum kembali meningkat ke level 5,0% pada 2027. Perlambatan tersebut dipengaruhi tingginya biaya energi dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang berpotensi menekan konsumsi serta investasi.