LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (11/6/2026) di tengah meningkatnya tekanan eksternal akibat memanasnya konflik di Timur Tengah serta menguatnya ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat.
Pada perdagangan sore ini, rupiah ditutup melemah 44 poin ke level Rp17.988 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di posisi Rp17.944 per dolar AS. Sepanjang sesi perdagangan, mata uang Garuda bahkan sempat tertekan lebih dalam dengan pelemahan mencapai 60 poin sebelum memangkas sebagian kerugiannya menjelang penutupan.
Pelemahan rupiah terjadi ketika pelaku pasar mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang berpotensi meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Indonesia. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada proyeksi terbaru Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) terkait kondisi fiskal Indonesia.
OECD memperkirakan defisit APBN Indonesia pada 2026 akan melebar hingga mencapai 3% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dibanding target pemerintah sebesar 2,7% dari PDB. Proyeksi tersebut juga meningkat dibanding realisasi defisit 2025 yang berada di level 2,9% dari PDB.
Pelebaran defisit diperkirakan dipicu kenaikan harga komoditas energi global, khususnya minyak mentah. OECD memperkirakan harga minyak yang lebih tinggi dapat meningkatkan defisit anggaran sekitar 0,6% dari PDB melalui kenaikan beban subsidi bahan bakar minyak apabila kebijakan penahanan harga BBM bersubsidi tetap dipertahankan.
Meski demikian, OECD menilai pemerintah Indonesia masih menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas aman 3% dari PDB. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah diperkirakan perlu menerapkan berbagai langkah kompensasi, termasuk efisiensi belanja negara dan kemungkinan penerapan pajak durian runtuh atau windfall taxes terhadap eksportir komoditas.
Dari sisi makroekonomi, OECD memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat menjadi 4,7% pada 2026 sebelum kembali meningkat ke level 5,0% pada 2027. Perlambatan tersebut dipengaruhi tingginya biaya energi dan meningkatnya ketidakpastian kebijakan yang berpotensi menekan konsumsi serta investasi.
Sementara itu, inflasi Indonesia diperkirakan meningkat menjadi 3,4% pada 2026. Kenaikan tersebut dipicu transmisi bertahap harga energi global ke dalam negeri meskipun pemerintah masih mempertahankan kebijakan pembekuan harga BBM bersubsidi.
Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan faktor eksternal masih menjadi pendorong utama pelemahan rupiah saat ini, terutama meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter ketat Amerika Serikat.
"Komando militer gabungan tertinggi Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada hari Kamis, termasuk kapal tanker minyak dan kapal komersial, dengan mengatakan bahwa setiap kapal yang mencoba melewatinya akan ditembak," ujar dia dalam keterangannya, Kamis (11/6/2026).
Menurut Ibrahim, ketegangan tersebut menjaga harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global. Kondisi ini berpotensi menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena meningkatkan risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Pada sisi teknikal dan prospek jangka pendek, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Pelaku pasar masih menunggu perkembangan situasi geopolitik serta sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang akan menentukan arah pergerakan pasar berikutnya.
Ibrahim Assuaibi juga menilai perhatian investor kini tertuju pada data inflasi lanjutan dan arah kebijakan moneter Federal Reserve.
"Kontrak berjangka suku bunga sekarang menunjukkan peningkatan kemungkinan setidaknya satu kenaikan suku bunga Fed sebelum akhir tahun, sebuah perubahan tajam dari ekspektasi awal tahun ini."
Untuk perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.980 hingga Rp18.030 per dolar AS.
Dari sisi eksternal, dolar AS bergerak menguat pada Kamis seiring meningkatnya permintaan aset aman dan berubahnya ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve. Penguatan dolar didorong kombinasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan data inflasi Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan.
Data yang dirilis semalam menunjukkan indeks harga konsumen atau inflasi AS naik 4,2% secara tahunan pada Mei 2026, menjadi laju tercepat dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan inflasi terutama dipicu lonjakan biaya energi yang terjadi di tengah memanasnya konflik kawasan Timur Tengah.
Data tersebut memperkuat pandangan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, pasar mulai memperhitungkan peluang tambahan kenaikan suku bunga sebelum akhir tahun apabila tekanan inflasi belum mereda.
Investor kini menantikan rilis data harga produsen AS yang dijadwalkan keluar pada Kamis waktu setempat sebagai petunjuk lanjutan mengenai arah inflasi dan kebijakan moneter AS. Hasil data tersebut berpotensi menjadi katalis penting bagi pergerakan dolar AS sekaligus menentukan arah rupiah dalam jangka pendek.
Selama sentimen geopolitik dan ekspektasi suku bunga tinggi AS masih mendominasi pasar, tekanan terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah diperkirakan tetap bertahan. Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada perkembangan konflik Iran-AS, pergerakan harga minyak global, serta data ekonomi Amerika Serikat yang akan menjadi penentu arah pasar keuangan dalam beberapa hari ke depan.
(lam)