home sports

Bagaimana Sepak Bola Memenangkan Hati Amerika? Beckham dan Messi Punya Peran Besar

Senin, 15 Juni 2026 - 07:34 WIB
Bagaimana Sepak Bola Memenangkan Hati Amerika? Beckham dan Messi Punya Peran Besar
LANGIT7.ID-New York; Saya masih ingat betul reaksi para tentara Amerika saat kami menonton tim nasional putra AS melawan Jerman di perempat final Piala Dunia 2002.

Pada malam yang panas dan lembap, kami berkumpul di pangkalan militer AS di Korea Selatan, tidak jauh dari Zona Demiliterisasi. Saya ada di sana untuk mengabadikan reaksi para tentara terhadap pertandingan itu untuk CNN. Ruang nonton darurat kami terasa hambar, dengan kursi plastik yang ditata longgar mengelilingi sebuah televisi di atas dudukan yang sengaja dihadirkan untuk acara tersebut.

Saat pertandingan dimulai, para tentara menonton dengan patuh, tanpa keributan yang biasanya saya harapkan dari kerumunan serupa di negara asal saya, Inggris Raya. Yang mengejutkan, AS justru terlihat jauh lebih berbahaya — sebuah tim yang hanya empat tahun sebelumnya meninggalkan putaran final Piala Dunia di Prancis dengan catatan terburuk dari 32 negara. Tim underdog ini melawan sang unggulan, meskipun usaha para pahlawan pemberani ini nyaris tidak tampak berpengaruh di pesta nonton kami yang sunyi.

Kemudian, pada menit ke-39, tatanan pulih kembali ketika Jerman — yang saat itu adalah juara dunia tiga kali — unggul. Dan meskipun AS terus bertarung dengan gagah berani, Jerman pada akhirnya bertahan untuk kemenangan 1-0.

Bagi saya, itu momen yang epik. AS telah bertanding habis-habisan dan pantas mendapat ucapan selamat yang besar. Itulah sentimen yang saya harapkan dari para tentara saat mikrofon menyapa mereka setelah pertandingan. Namun yang saya dapatkan hanyalah paduan suara "Andai tadi, bisa saja, seharusnya." Bukan hanya kekecewaan, tapi juga rasa jera.

Penonton yang keras. Saya benar-benar terperangah. Jelas, orang Amerika tidak menerima kegagalan yang mulia; mereka menuntut dominasi, bukan sekadar partisipasi setiap saat. Namun dalam sepak bola, AS adalah pendatang baru, bukan ikon, dan saat itulah saya menyadari mengapa olahraga ini sulit sekali diterima di Amerika.

Dua puluh empat tahun kemudian, zaman telah berubah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya