Formulasi Ekonomi Syariah sebagai Anti-Tesis Imperalisme Global
Miftah yusufpati
Rabu, 17 Juni 2026 - 05:26 WIB
Tatanan ekonomi yang dibangun di atas pilar spiritualisme Al-Quran menawarkan solusi komprehensif bagi kebuntuan sistem ekonomi dunia. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Seorang pria paruh baya berdiri terpaku di depan sebuah etalase toko ritel modern di kawasan bisnis Jakarta Pusat. Tangannya menggenggam beberapa lembar uang kertas nominal kecil, sisa upah buruh harian yang ia terima sore itu.
Di dalam toko, aneka komoditas pangan dipajang dengan label harga yang terus merangkak naik akibat inflasi struktural. Di luar toko, gedung-gedung pencakar langit milik korporasi multinasional berdiri megah, menjadi simbol konsentrasi modal yang hanya berputar di lingkaran segelintir elite finansial.
Kontras sosial ini memperlihatkan realitas empiris bagaimana arsitektur ekonomi dunia hari ini gagal mendistribusikan kemakmuran secara merata, meninggalkan masyarakat kelas bawah dalam perangkap kemiskinan yang kronis.
Krisis kemanusiaan dan ketimpangan ekstrem ini berakar dari bekerjanya ekosistem pasar yang ditopang oleh instrumen riba atau bunga modal.
Dalam skala makro geopolitik, akumulasi utang berbunga tinggi telah lama menjadi alat penetrasi finansial yang menjerumuskan banyak negara berkembang ke dalam bencana penjajahan gaya baru.
Praktik imperialisme ekonomi tersebut merupakan hulu ledak dari berbagai peperangan dan penderitaan besar yang menekan kehidupan umat manusia. Selama tata keuangan global masih mengadopsi sistem bunga yang eksploitatif, kedamaian dan persaudaraan antarbangsa menjadi utopia yang mustahil diraih.
Harapan untuk memulihkan kesejahteraan publik hanya bertumpu pada satu syarat, yaitu membangun kembali kebudayaan ekonomi di atas fondasi syariat Islam.
Di dalam toko, aneka komoditas pangan dipajang dengan label harga yang terus merangkak naik akibat inflasi struktural. Di luar toko, gedung-gedung pencakar langit milik korporasi multinasional berdiri megah, menjadi simbol konsentrasi modal yang hanya berputar di lingkaran segelintir elite finansial.
Kontras sosial ini memperlihatkan realitas empiris bagaimana arsitektur ekonomi dunia hari ini gagal mendistribusikan kemakmuran secara merata, meninggalkan masyarakat kelas bawah dalam perangkap kemiskinan yang kronis.
Krisis kemanusiaan dan ketimpangan ekstrem ini berakar dari bekerjanya ekosistem pasar yang ditopang oleh instrumen riba atau bunga modal.
Dalam skala makro geopolitik, akumulasi utang berbunga tinggi telah lama menjadi alat penetrasi finansial yang menjerumuskan banyak negara berkembang ke dalam bencana penjajahan gaya baru.
Praktik imperialisme ekonomi tersebut merupakan hulu ledak dari berbagai peperangan dan penderitaan besar yang menekan kehidupan umat manusia. Selama tata keuangan global masih mengadopsi sistem bunga yang eksploitatif, kedamaian dan persaudaraan antarbangsa menjadi utopia yang mustahil diraih.
Harapan untuk memulihkan kesejahteraan publik hanya bertumpu pada satu syarat, yaitu membangun kembali kebudayaan ekonomi di atas fondasi syariat Islam.