home masjid

Islam Mewajibkan Pemimpin Mengayomi Rakyat dengan Tulus

Jum'at, 19 Juni 2026 - 16:33 WIB
Kepemimpinan dalam perspektif syariat menuntut kejujuran penuh dan kerja keras tanpa henti dalam melayani kepentingan masyarakat. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Lampu gantung di ruang rapat utama gedung balai kota itu masih menyala hingga pukul dua dini hari. Beberapa pejabat tinggi daerah tampak tegang menghadap tumpukan berkas anggaran penanggulangan kemiskinan yang bocor ke publik. Rencana pembangunan fasilitas kesehatan publik yang dijanjikan saat kampanye ternyata dialihkan secara sepihak untuk proyek infrastruktur komersial. Di luar gedung, ratusan warga masih bertahan memegang poster tuntutan keadilan atas janji yang diingkari.

Manipulasi kebijakan yang merugikan publik kini menjadi catatan merah dalam tata kelola pemerintahan moderen. Berdasarkan data pemantauan lembaga transparansi publik nasional, tingkat ketidakpuasan warga terhadap realisasi janji kampanye kepala daerah mencapai angka yang signifikan. Tindakan mengelabui masyarakat demi mengamankan logistik politik kelompok adalah bentuk pengkhianatan nyata terhadap kontrak sosial.

Islam memandang hubungan antara penguasa dan rakyat sebagai ikatan amanah yang wajib dijaga dengan ketulusan mutlak. Seorang pemimpin memiliki kewajiban melekat untuk selalu mengayomi, membimbing, dan memberi nasihat yang baik kepada warga. Pembimbingan ini mencakup segala perkara yang berkaitan dengan urusan kemaslahatan dunia maupun urusan keselamatan agama.

Rasulullah memberikan penegasan mengenai kewajiban mengayomi publik secara total dalam sabdanya:

مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ لَا يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ إِلَّا لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ.

Tak seorang pemimpinpun yang mengurusi urusan kaum muslimin, kemudian ia tidak pernah letih dari mengayomi dan menasihati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk ke dalam surga bersama mereka.

Tuntutan berjuang tanpa letih demi rakyat adalah standar mutu moral yang tinggi dalam syariat Islam. Penguasa yang abai dan membiarkan warganya tanpa bimbingan serta perlindungan hukum tidak layak mendapatkan kemuliaan di akhirat. Kepemimpinan bukan alat untuk memburu kemewahan pribadi, melainkan ruang pengorbanan tenaga dan pikiran demi hajat hidup orang banyak.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya