home global news

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.801 per Dolar AS, Sentimen MSCI dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Tekanan

Jum'at, 19 Juni 2026 - 17:24 WIB
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.801 per Dolar AS, Sentimen MSCI dan Sikap Hawkish The Fed Jadi Tekanan
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah ditutup melemah tipis pada perdagangan Jumat (19/6/2026). Mata uang Garuda berada di level Rp17.801 per dolar AS, turun 7 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.794 per dolar AS.

Sepanjang perdagangan, rupiah sempat mengalami tekanan yang lebih dalam dengan pelemahan mencapai 55 poin sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian hingga penutupan pasar. Pergerakan tersebut menunjukkan pasar masih dibayangi sejumlah sentimen domestik maupun global yang memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko.

Tekanan terhadap rupiah pada perdagangan kali ini antara lain dipicu oleh perkembangan terbaru dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menurunkan penilaian Indonesia pada kriteria arus informasi (information flow) dalam laporan 2026 Global Market Accessibility Review menjadi negatif.

Penilaian tersebut diberikan setelah MSCI kembali menyoroti persoalan transparansi struktur kepemilikan saham serta indikasi perdagangan semu atau terkoordinasi di pasar modal Indonesia. Menurut MSCI, minimnya transparansi data kepemilikan saham dan aktivitas perdagangan berpotensi mengganggu proses pembentukan harga yang wajar serta menyulitkan investor global dalam mengukur jumlah saham beredar sebenarnya atau free float emiten.

Selain itu, MSCI juga menyoroti keterbatasan pasar valuta asing Indonesia yang dinilai masih menjadi hambatan bagi investor asing.

" Tidak ada pasar mata uang lepas pantai (offshore) yang efisien, dan terdapat berbagai batasan pada pasar mata uang domestik (onshore) di Indonesia," ungkap riset MSCI.

MSCI juga menyatakan tingkat liberalisasi valuta asing di Indonesia masih sangat terbatas. Meski demikian, lembaga tersebut tetap mempertahankan Indonesia dalam kategori Emerging Market karena masih memiliki sejumlah keunggulan dari sisi keterbukaan pasar.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya