Kisah Umar bin Khattab Putuskan Masuk Islam setelah Sempat Berniat Membunuh Nabi Muhammad SAW
Miftah yusufpati
Ahad, 21 Juni 2026 - 04:00 WIB
Sebuah akhir cerita yang ironis bagi kaum Quraisy, namun menjadi awal baru yang gemilang bagi peradaban Islam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Langkah kaki pria tegap itu menghentak debu jalanan Mekah dengan gusar. Di tangan kanannya, sebilah pedang terhunus berkilat diterpa matahari pagi. Targetnya jelas: menghabisi nyawa Nabi Muhammad. Pria itu adalah Umar bin Khattab, seorang bangsawan Quraisy yang dikenal garang dan tak kenal ampun terhadap para pengikut agama baru. Umar tidak tahan lagi melihat keutuhan sukunya pecah berantakan. Baginya, satu-satunya cara mengembalikan persatuan Quraisy adalah dengan melenyapkan sang pembawa risalah.
Namun, takdir memiliki skenario lain pada pagi hari di pertengahan abad ketujuh itu. Perjalanan Umar distop oleh Nu'aim bin Abdullah yang membocorkan rahasia mengejutkan. Adik kandung Umar sendiri, Fatimah binti Khattab, beserta suaminya, Sa'id bin Zaid, ternyata telah lama menjadi pengikut rahasia Nabi Muhammad. Informasi itu bagai petir di siang bolong. Umar berbalik arah, melangkah cepat menuju rumah adiknya dengan amarah yang kian mendidih.
Kisah dramatis ini menjadi salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah awal syiar Islam. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya, Al-Faruq Umar (Pustaka Litera AntarNusa, 2000), mencatat bahwa sebelum momen penyerangan itu, Umar sebenarnya didera konflik batin yang hebat. Penindasan yang ia lakukan terhadap kaum muslim tidak memadamkan iman mereka, justru memicu gelombang migrasi ke Abisinia. Kepergian para tetangga dan kerabatnya meninggalkan lubang kesepian sekaligus penyesalan mendalam di hati Umar.
Tamparan di Rumah Fatimah
Setibanya di depan pintu rumah Fatimah, samar-samar Umar mendengar lantunan ayat yang asing bagi telinganya. Di dalam ruangan, Khabbab bin al-Arat tengah membacakan lembaran Surah Ta-Ha kepada pasangan suami istri tersebut. Menyadari kedatangan sang tiran, Khabbab segera bersembunyi di balik kamar, sementara Fatimah buru-buru menyelipkan lembaran kitab suci itu ke balik pakaiannya.
Umar merangsek masuk dengan tatapan mengintimidasi. Ia langsung mengonfrontasi iparnya terkait kabar perpindahan agama mereka. Debat singkat berujung pada kekerasan fisik. Umar menghantam Sa'id bin Zaid hingga tersungkur. Ketika Fatimah maju melindungi suaminya, sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya hingga mengucurkan darah.
Melihat darah mengalir di wajah adik perempuannya, benteng amarah Umar mendadak runtuh. Rasa sesal yang hebat merayapi dadanya. Keberanian Fatimah yang tetap teguh mempertahankan keyakinannya di bawah ancaman pedang membuat Umar takjub. Ia meminta lembaran yang disembunyikan itu untuk dibaca. Setelah bersumpah demi berhala sembahannya tidak akan merusak lembaran tersebut, Fatimah akhirnya menyerahkannya.
Namun, takdir memiliki skenario lain pada pagi hari di pertengahan abad ketujuh itu. Perjalanan Umar distop oleh Nu'aim bin Abdullah yang membocorkan rahasia mengejutkan. Adik kandung Umar sendiri, Fatimah binti Khattab, beserta suaminya, Sa'id bin Zaid, ternyata telah lama menjadi pengikut rahasia Nabi Muhammad. Informasi itu bagai petir di siang bolong. Umar berbalik arah, melangkah cepat menuju rumah adiknya dengan amarah yang kian mendidih.
Kisah dramatis ini menjadi salah satu titik balik paling krusial dalam sejarah awal syiar Islam. Muhammad Husain Haekal dalam bukunya, Al-Faruq Umar (Pustaka Litera AntarNusa, 2000), mencatat bahwa sebelum momen penyerangan itu, Umar sebenarnya didera konflik batin yang hebat. Penindasan yang ia lakukan terhadap kaum muslim tidak memadamkan iman mereka, justru memicu gelombang migrasi ke Abisinia. Kepergian para tetangga dan kerabatnya meninggalkan lubang kesepian sekaligus penyesalan mendalam di hati Umar.
Tamparan di Rumah Fatimah
Setibanya di depan pintu rumah Fatimah, samar-samar Umar mendengar lantunan ayat yang asing bagi telinganya. Di dalam ruangan, Khabbab bin al-Arat tengah membacakan lembaran Surah Ta-Ha kepada pasangan suami istri tersebut. Menyadari kedatangan sang tiran, Khabbab segera bersembunyi di balik kamar, sementara Fatimah buru-buru menyelipkan lembaran kitab suci itu ke balik pakaiannya.
Umar merangsek masuk dengan tatapan mengintimidasi. Ia langsung mengonfrontasi iparnya terkait kabar perpindahan agama mereka. Debat singkat berujung pada kekerasan fisik. Umar menghantam Sa'id bin Zaid hingga tersungkur. Ketika Fatimah maju melindungi suaminya, sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya hingga mengucurkan darah.
Melihat darah mengalir di wajah adik perempuannya, benteng amarah Umar mendadak runtuh. Rasa sesal yang hebat merayapi dadanya. Keberanian Fatimah yang tetap teguh mempertahankan keyakinannya di bawah ancaman pedang membuat Umar takjub. Ia meminta lembaran yang disembunyikan itu untuk dibaca. Setelah bersumpah demi berhala sembahannya tidak akan merusak lembaran tersebut, Fatimah akhirnya menyerahkannya.