Bung Karno dan Muhammadiyah: Pesan Ibadah dalam Membangun Bangsa
Tim langit 7
Ahad, 21 Juni 2026 - 17:31 WIB
Bung Karno dan Muhammadiyah: Pesan Ibadah dalam Membangun Bangsa
Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Ada kata-kata Bung Karno yang menarik untuk dicamkan oleh seluruh warga Muhammadiyah. Pesan tersebut disampaikan Bung Karno dalam salah satu kesempatan bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, KH Ahmad Badawi.
Bung Karno berkata kepada warga Muhammadiyah yang hadir, “Tahukah saudara mengapa saya cinta dan menjadi anggota Muhammadiyah, bahkan menjadi anggota setia dari Muhammadiyah? Alasannya, karena saya sebagai pemuda telah nginthil-nginthil Kiai Ahmad Dahlan, karena ajaran yang diberikannya itu betul-betul sesuai dengan alam fikiran saya.”
“Juga ajarannya telah menggugah kalbu dan roh saya, yaitu satu keyakinan yang teguh tentang kebenaran Islam. Bagi saya, Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan itu adalah purification of the mind, rejuvenation of the Islam creed. Jadi, itulah sebabnya saya khintil Kiai Haji Ahmad Dahlan dan menjadi anggota yang setia kepada Muhammadiyah.”
“Saya itu,” kata Bung Karno, “sangat yakin suatu bangsa dan juga suatu agama hanyalah akan kuat jikalau ia punya mind yang tidak dikotori oleh khurafat-khurafat yang tidak benar, oleh bid’ah-bid’ah yang menyalahi prinsip-prinsip pokok. Oleh karena itu, kalau kecintaan saya kepada Muhammadiyah saya hubungkan dengan negara, tanah air, dan bangsa, maka ketiga-tiganya itu adalah amanat dari Allah SWT.”
“Bagi saya dan juga bagi Muhammadiyah, seperti dikatakan Mas Badawi,” lanjut Bung Karno, “mengabdi kepada negara dalam arti menyusun negara agar supaya negara ini selamat, bagiku dan juga bagi warga Muhammadiyah, adalah suatu ibadah.”
Ibadah itu, menurut Bung Karno, bukan hanya sembahyang atau salat, tetapi segala sesuatu perbuatan kita yang berarti penyembahan dan kebaktian kepada Allah SWT. Oleh karena itu, menyusun negara dan bangsa serta menyelamatkan negara dan bangsa adalah ibadah. Mempersatukan tanah air dan memakmurkannya adalah ibadah, karena negara, bangsa, dan tanah air itu merupakan amanat Tuhan kepada kita.
LANGIT7.ID-Ada kata-kata Bung Karno yang menarik untuk dicamkan oleh seluruh warga Muhammadiyah. Pesan tersebut disampaikan Bung Karno dalam salah satu kesempatan bersama Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat itu, KH Ahmad Badawi.
Bung Karno berkata kepada warga Muhammadiyah yang hadir, “Tahukah saudara mengapa saya cinta dan menjadi anggota Muhammadiyah, bahkan menjadi anggota setia dari Muhammadiyah? Alasannya, karena saya sebagai pemuda telah nginthil-nginthil Kiai Ahmad Dahlan, karena ajaran yang diberikannya itu betul-betul sesuai dengan alam fikiran saya.”
“Juga ajarannya telah menggugah kalbu dan roh saya, yaitu satu keyakinan yang teguh tentang kebenaran Islam. Bagi saya, Muhammadiyah yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan itu adalah purification of the mind, rejuvenation of the Islam creed. Jadi, itulah sebabnya saya khintil Kiai Haji Ahmad Dahlan dan menjadi anggota yang setia kepada Muhammadiyah.”
“Saya itu,” kata Bung Karno, “sangat yakin suatu bangsa dan juga suatu agama hanyalah akan kuat jikalau ia punya mind yang tidak dikotori oleh khurafat-khurafat yang tidak benar, oleh bid’ah-bid’ah yang menyalahi prinsip-prinsip pokok. Oleh karena itu, kalau kecintaan saya kepada Muhammadiyah saya hubungkan dengan negara, tanah air, dan bangsa, maka ketiga-tiganya itu adalah amanat dari Allah SWT.”
“Bagi saya dan juga bagi Muhammadiyah, seperti dikatakan Mas Badawi,” lanjut Bung Karno, “mengabdi kepada negara dalam arti menyusun negara agar supaya negara ini selamat, bagiku dan juga bagi warga Muhammadiyah, adalah suatu ibadah.”
Ibadah itu, menurut Bung Karno, bukan hanya sembahyang atau salat, tetapi segala sesuatu perbuatan kita yang berarti penyembahan dan kebaktian kepada Allah SWT. Oleh karena itu, menyusun negara dan bangsa serta menyelamatkan negara dan bangsa adalah ibadah. Mempersatukan tanah air dan memakmurkannya adalah ibadah, karena negara, bangsa, dan tanah air itu merupakan amanat Tuhan kepada kita.