Umar bin Khattab sebelum Masuk Islam: Sempat Menyiksa Kaum Duafa demi Ketertiban Kota Makkah
Miftah yusufpati
Senin, 22 Juni 2026 - 05:43 WIB
Umar berhasil mewujudkan ketertiban kota yang ia impikan, namun tidak lagi di bawah naungan hukum jahiliah yang rapuh, melainkan di bawah prinsip keadilan Islam. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Bagi Umar bin Khattab, kehormatan Makkah di mata bangsa Arab adalah segala-galanya. Sebagai pemuda yang tumbuh di tengah masyarakat jahiliah, ia sangat fanatik terhadap tatanan sosial yang sudah mapan. Wataknya praktis, suka bekerja, dan ia selalu mengukur nilai sebuah pemikiran dari dampak nyatanya dalam kehidupan sehari-hari. Baginya, merenung tanpa menghasilkan kekuatan nyata adalah kesia-siaan. Landasan psikologis inilah yang membuat Umar begitu membenci perubahan yang dibawa oleh Islam pada awal masa kerasulan Nabi Muhammad.
Umar memandang kehadiran Islam sebagai ancaman langsung terhadap ketertiban umum dan stabilitas kota Mekah. Di mata Umar, perpecahan internal akibat perbedaan keyakinan baru hanya akan memperlemah kedudukan Mekah sebagai pusat peradaban Arab.
Ketidaksukaannya pada kelemahan juga terlihat dari bagaimana ia memandang para pemuda yang menghabiskan waktu merayu perempuan atau mendendangkan asmara. Karakter yang mengagungkan kekuatan fisik dan ketertiban ini tertuang jelas dalam buku Al-Faruq Umar karya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Sebagai orang yang percaya pada supremasi kekuatan, Umar berada di barisan depan dalam membendung riak-riak baru di kotanya. Pada awal kerasulan, ia tidak segan menyiksa para pengikut Nabi Muhammad yang berada dalam posisi lemah agar keluar dari Islam.
Ruang gerak kekerasan Umar sebenarnya terbatas karena kabilah Quraisy secara umum dan kabilahnya sendiri, Banu Adi, melarang perang antar-saudara. Oleh karena itu, sasaran amarah Umar adalah kaum duafa yang tidak memiliki perlindungan politik, sementara tokoh seperti Abu Bakar atau Usman bin Affan tetap aman di bawah proteksi kabilah besar mereka.
Retaknya Solidaritas
Kekerasan yang dilancarkan Umar dan pemuka Quraisy lainnya ternyata tidak membuahkan hasil. Alih-alih surut, para pengikut Islam justru memperlihatkan keteguhan iman yang di luar nalar Umar. Siksaan fisik yang berat dihadapi dengan ucapan bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Fenomena ini memaksa Umar mulai memikirkan ulang tindakannya. Islam terbukti bukan sekadar konsep teori di atas kertas, melainkan sebuah kekuatan penggerak yang dampaknya sangat nyata dalam mengubah mentalitas pemeluknya.
Umar memandang kehadiran Islam sebagai ancaman langsung terhadap ketertiban umum dan stabilitas kota Mekah. Di mata Umar, perpecahan internal akibat perbedaan keyakinan baru hanya akan memperlemah kedudukan Mekah sebagai pusat peradaban Arab.
Ketidaksukaannya pada kelemahan juga terlihat dari bagaimana ia memandang para pemuda yang menghabiskan waktu merayu perempuan atau mendendangkan asmara. Karakter yang mengagungkan kekuatan fisik dan ketertiban ini tertuang jelas dalam buku Al-Faruq Umar karya Muhammad Husain Haekal (Pustaka Litera AntarNusa, 2000).
Sebagai orang yang percaya pada supremasi kekuatan, Umar berada di barisan depan dalam membendung riak-riak baru di kotanya. Pada awal kerasulan, ia tidak segan menyiksa para pengikut Nabi Muhammad yang berada dalam posisi lemah agar keluar dari Islam.
Ruang gerak kekerasan Umar sebenarnya terbatas karena kabilah Quraisy secara umum dan kabilahnya sendiri, Banu Adi, melarang perang antar-saudara. Oleh karena itu, sasaran amarah Umar adalah kaum duafa yang tidak memiliki perlindungan politik, sementara tokoh seperti Abu Bakar atau Usman bin Affan tetap aman di bawah proteksi kabilah besar mereka.
Retaknya Solidaritas
Kekerasan yang dilancarkan Umar dan pemuka Quraisy lainnya ternyata tidak membuahkan hasil. Alih-alih surut, para pengikut Islam justru memperlihatkan keteguhan iman yang di luar nalar Umar. Siksaan fisik yang berat dihadapi dengan ucapan bahwa Allah adalah Tuhan mereka. Fenomena ini memaksa Umar mulai memikirkan ulang tindakannya. Islam terbukti bukan sekadar konsep teori di atas kertas, melainkan sebuah kekuatan penggerak yang dampaknya sangat nyata dalam mengubah mentalitas pemeluknya.