Tafsir Surah An-Nisa Ayat 58-59: Kewajiban Distribusi Jabatan Berdasarkan Kompetensi
Miftah yusufpati
Selasa, 23 Juni 2026 - 05:25 WIB
Kepemimpinan yang kokoh hanya akan lahir jika amanat diletakkan di tangan para profesional yang adil, serta didukung oleh rakyat yang kritis namun taat asas. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Ruang kerja seorang kepala daerah atau meja rapat komisi negara sering kali menjadi saksi bagaimana sebuah jabatan publik diperebutkan dan didistribusikan. Di era modern, kekuasaan kerap dipandang sebagai piala rampasan perang politik yang sah dibagikan kepada tim sukses atau kolega dekat sebagai balas jasa.
Padahal, dalam kacamata hukum tata negara Islam, setiap otoritas yang melekat pada seorang pejabat adalah barang titipan yang menuntut pertanggungjawaban mutlak. Ketika penempatan figur tidak didasarkan pada kompetensi, melainkan transaksi akomodatif, maka kehancuran institusi tinggal menunggu waktu.
Krisis pengelolaan kekuasaan ini sebenarnya telah diantisipasi secara rigid melalui konstitusi moral Al-Quran.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri dalam kitab Mukhtasar Al-Fiqh Al-Islami atau Ringkasan Fiqih Islam (IslamHouse.com, 2012) mengupas tuntas faedah teologis dan sosiologis dari dua ayat kembar tentang kepemimpinan. Ayat tersebut menjadi jangkar utama dalam mengatur hubungan antara penguasa, hukum, dan rakyat.
Teks otoritatif tersebut termaktub dalam Surah An-Nisa ayat 58 dan 59:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا ﴿٥٨﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.
Padahal, dalam kacamata hukum tata negara Islam, setiap otoritas yang melekat pada seorang pejabat adalah barang titipan yang menuntut pertanggungjawaban mutlak. Ketika penempatan figur tidak didasarkan pada kompetensi, melainkan transaksi akomodatif, maka kehancuran institusi tinggal menunggu waktu.
Krisis pengelolaan kekuasaan ini sebenarnya telah diantisipasi secara rigid melalui konstitusi moral Al-Quran.
Syaikh Muhammad bin Ibrahim At-Tuwaijri dalam kitab Mukhtasar Al-Fiqh Al-Islami atau Ringkasan Fiqih Islam (IslamHouse.com, 2012) mengupas tuntas faedah teologis dan sosiologis dari dua ayat kembar tentang kepemimpinan. Ayat tersebut menjadi jangkar utama dalam mengatur hubungan antara penguasa, hukum, dan rakyat.
Teks otoritatif tersebut termaktub dalam Surah An-Nisa ayat 58 dan 59:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ ۚ إِنَّ اللَّهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيعًا بَصِيرًا ﴿٥٨﴾ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.