Indonesia Bisa Dikucilkan Dunia? Ekonom Sebut UU P2SK Buka Jalan Investor Hitam dan Dana Ilegal
Nabil
Rabu, 24 Juni 2026 - 22:24 WIB
Indonesia Bisa Dikucilkan Dunia? Ekonom Sebut UU P2SK Buka Jalan Investor Hitam dan Dana Ilegal
LANGIT7.ID-Jakarta; Polemik mengenai Pasal 50A dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK) kembali mengemuka. Dalam sebuah diskusi yang digelar Universitas Paramadina, sejumlah ekonom menilai ketentuan tersebut berpotensi menimbulkan persoalan serius bagi reputasi Indonesia di mata dunia internasional.
Mereka menyoroti risiko menurunnya kepercayaan investor global, potensi masuknya dana ilegal ke sistem keuangan nasional, hingga ancaman terhadap kredibilitas berbagai institusi strategis yang selama ini menjadi penjaga integritas sektor keuangan Indonesia.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan Indonesia saat ini tengah menghadapi persoalan kepercayaan atau trust deficit yang semakin terasa di mata pelaku ekonomi global. Menurutnya, keraguan terhadap berbagai kebijakan dan indikator ekonomi nasional menjadi tantangan tersendiri dalam menarik investasi.
"Saat Ini Indonesia tengah menghadapi ‘’devisit trust’’ dari dunia internasional. Terdapat pertanyaan-pertanyaan dari para ekonom dunia dari Lembaga-lembaga besar tentang kredibilitas data kemiskinan, data pertumbuhan ekonomi, dll. Belum lagi devisit trust dari kebijakan yang muncul tiba-tiba, devisit trust dari kebijakan yang tanpa teknokrasi yang jelas, juga ttg narasi government dgn realisasi di lapangan yang berbeda," kata Wijayanto dalam diskusi tersebut, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, persoalan kepercayaan tidak hanya berdampak pada arus investasi, tetapi juga tercermin dalam pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar modal. Ia menilai berbagai upaya yang dilakukan untuk menopang pasar belum mampu menghilangkan keraguan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Wijayanto mengungkapkan bahwa sejak kebijakan buyback dijalankan pada 10 Juni 2026, investor asing tetap melakukan penjualan bersih saham sekitar Rp7 triliun. Sementara sepanjang tahun ini, nilai penjualan bersih asing disebut telah mencapai sekitar Rp68 triliun.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi sinyal bahwa sebagian investor global masih menahan kepercayaan terhadap pasar Indonesia. Bahkan, ia menyebut sejumlah perusahaan multinasional mulai mempertimbangkan ulang ekspansi bisnis mereka di Tanah Air.
Mereka menyoroti risiko menurunnya kepercayaan investor global, potensi masuknya dana ilegal ke sistem keuangan nasional, hingga ancaman terhadap kredibilitas berbagai institusi strategis yang selama ini menjadi penjaga integritas sektor keuangan Indonesia.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan Indonesia saat ini tengah menghadapi persoalan kepercayaan atau trust deficit yang semakin terasa di mata pelaku ekonomi global. Menurutnya, keraguan terhadap berbagai kebijakan dan indikator ekonomi nasional menjadi tantangan tersendiri dalam menarik investasi.
"Saat Ini Indonesia tengah menghadapi ‘’devisit trust’’ dari dunia internasional. Terdapat pertanyaan-pertanyaan dari para ekonom dunia dari Lembaga-lembaga besar tentang kredibilitas data kemiskinan, data pertumbuhan ekonomi, dll. Belum lagi devisit trust dari kebijakan yang muncul tiba-tiba, devisit trust dari kebijakan yang tanpa teknokrasi yang jelas, juga ttg narasi government dgn realisasi di lapangan yang berbeda," kata Wijayanto dalam diskusi tersebut, Rabu (24/6/2026).
Menurut dia, persoalan kepercayaan tidak hanya berdampak pada arus investasi, tetapi juga tercermin dalam pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar modal. Ia menilai berbagai upaya yang dilakukan untuk menopang pasar belum mampu menghilangkan keraguan investor asing terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Wijayanto mengungkapkan bahwa sejak kebijakan buyback dijalankan pada 10 Juni 2026, investor asing tetap melakukan penjualan bersih saham sekitar Rp7 triliun. Sementara sepanjang tahun ini, nilai penjualan bersih asing disebut telah mencapai sekitar Rp68 triliun.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi sinyal bahwa sebagian investor global masih menahan kepercayaan terhadap pasar Indonesia. Bahkan, ia menyebut sejumlah perusahaan multinasional mulai mempertimbangkan ulang ekspansi bisnis mereka di Tanah Air.