Menag Nasaruddin Umar: Tak Bisa Lagi Pakai Pendekatan Like and Dislike, Saatnya Hijrah ke Meritokrasi
Tim langit 7
Kamis, 25 Juni 2026 - 11:17 WIB
(Dok: Kementerian Agama)
LANGIT7.ID-Jakarta;Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa masyarakat modern tidak lagi dapat dikelola dengan pendekatan suka atau tidak suka. Menurutnya, kemajuan hanya dapat dicapai apabila tata kelola dibangun di atas meritokrasi, profesionalisme, dan keadilan.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai Bank Indonesia yang dirangkaikan dengan tausiyah "Muharram Murobbi" di Masjid Jami' Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta.
"Merit operation itu sangat penting. Dalam masyarakat makro, tidak bisa lagi menggunakan pendekatan like and dislike. Yang harus dikedepankan adalah meritokrasi, profesionalisme, dan keadilan," tegas Menag saat menghadiri acara di Jakarta, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).
Menurut Menag, momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana hijrah, tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kelembagaan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pesan utama hijrah Nabi Muhammad SAW adalah transformasi masyarakat dari berbagai ikatan primordial menuju masyarakat umat yang lebih inklusif, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
"Kalau kita ingin cepat berkembang, mari kita hijrah dari konsep primordialisme menuju konsep umat. Masyarakat umat adalah masyarakat yang dibangun di atas nilai cinta kasih, visi bersama, dan orientasi kemajuan," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin Umar juga memberikan apresiasi terhadap peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai BI. Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan semakin kuatnya kesadaran kolektif untuk menjadikan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat menghadiri peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai Bank Indonesia yang dirangkaikan dengan tausiyah "Muharram Murobbi" di Masjid Jami' Baitul Ihsan, Bank Indonesia, Jakarta.
"Merit operation itu sangat penting. Dalam masyarakat makro, tidak bisa lagi menggunakan pendekatan like and dislike. Yang harus dikedepankan adalah meritokrasi, profesionalisme, dan keadilan," tegas Menag saat menghadiri acara di Jakarta, sebagaimana dikutip dari keterangan resmi, Kamis (25/6/2026).
Menurut Menag, momentum Tahun Baru Islam 1448 Hijriah seharusnya dimanfaatkan sebagai sarana hijrah, tidak hanya pada tingkat individu, tetapi juga dalam kehidupan sosial dan kelembagaan.
Ia menjelaskan bahwa salah satu pesan utama hijrah Nabi Muhammad SAW adalah transformasi masyarakat dari berbagai ikatan primordial menuju masyarakat umat yang lebih inklusif, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
"Kalau kita ingin cepat berkembang, mari kita hijrah dari konsep primordialisme menuju konsep umat. Masyarakat umat adalah masyarakat yang dibangun di atas nilai cinta kasih, visi bersama, dan orientasi kemajuan," ujarnya.
Dalam kesempatan yang sama, Nasaruddin Umar juga memberikan apresiasi terhadap peluncuran Gerakan Wakaf Pegawai BI. Menurutnya, inisiatif tersebut menunjukkan semakin kuatnya kesadaran kolektif untuk menjadikan wakaf sebagai instrumen pemberdayaan masyarakat.