home masjid

Kisah Umat bin Khattab Hijrah ke Madinah: Saat si Jawara Makkah Menundukkan Ego demi Garis Komando

Jum'at, 26 Juni 2026 - 04:00 WIB
Aksi hijrah Umar bin Khattab ke Medinah membuktikan kepatuhannya pada disiplin organisasi yang digagas Nabi Muhammad. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID- Gerbang kota Mekah perlahan menghilang di balik cakrawala padang pasir yang sunyi. Di bawah pekatnya kegelapan malam, seorang pria bertubuh tegap melangkah dengan pasti meninggalkan tanah kelahirannya. Pria itu adalah Umar bin Khattab. Pilihan untuk keluar dari Mekah secara sembunyi-sembunyi menuju Yasrib merupakan potret kontras dari wataknya yang biasa meledak-ledak dan gemar berterus terang.

Namun, keputusan tersebut bukanlah tanda dari sebuah kepasrahan atau ketakutan fisik. Langkah senyap ini merupakan manifestasi tertinggi dari sebuah kepatuhan buta terhadap disiplin jemaah dan strategi taktis yang telah ditetapkan oleh pimpinan tertinggi, Nabi Muhammad. Di balik kesunyian malam itu, sebuah transisi peradaban sedang dimulai secara teratur.

Fase transisi antara masuk Islamnya Umar hingga perintah hijrah merupakan salah satu periode paling krusial dalam sejarah pertumbuhan Islam. Muhammad Husain Haekal dalam karya klasiknya, Al-Faruq Umar (diterjemahkan oleh Ali Audah, P.T. Pustaka Litera AntarNusa, 2000), menjelaskan bahwa dalam biografi resmi, peranan Umar pada masa-masa sulit di Mekah sering kali luput dari pencatatan mendalam.

Meski demikian, fakta sejarah menunjukkan bahwa Umar adalah representasi Muslim yang paling tabah dan kokoh dalam membela kaum duafa dari siksaan kaum musyrik Quraisy. Sifat bawaannya yang sangat menghargai ketertiban dan keteraturan organisasi justru semakin mengkristal setelah ia memeluk Islam.

Ketabahan sosial dalam menghadapi masa-masa sulit migrasi dan penindasan politik ini selaras dengan makna teologis yang tertuang dalam Surah Al-Anfal ayat 72:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan bermigrasi serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan, mereka itu satu sama lain lindung-melindungi.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya