home masjid

Sejarah Disiplin Islam: Kisah Mimpi Umar bin Khattab Mengubah Tradisi Panggilan Salat

Jum'at, 26 Juni 2026 - 15:55 WIB
Umar adalah orang yang memastikan bahwa setiap azan yang dikumandangkan bukan hanya panggilan ibadah. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Suasana Medinah pada masa awal hijrah menyisakan satu masalah teknis yang mendasar: bagaimana mengumpulkan massa dalam waktu yang serentak untuk beribadah. Ketika umat Islam harus berkumpul di masjid, mereka melakukannya tanpa aba-aba. Orang datang kapan saja mereka sempat.

Nabi Muhammad sempat mempertimbangkan penggunaan trompet, merujuk pada tradisi Yahudi, atau genta seperti yang digunakan kaum Nasrani. Namun, beliau merasa kedua metode itu tidak pas. Beliau menginginkan sesuatu yang lebih luhur dan manusiawi.

Di tengah kegelisahan mencari bentuk panggilan salat itu, sebuah mimpi datang kepada Umar bin Khattab. Ia bermimpi melihat seseorang yang memberitahunya agar tidak menggunakan genta, melainkan menyerukan azan sebagai panggilan salat.

Saat Umar hendak menemui Nabi Muhammad untuk menyampaikan mimpinya, ternyata beliau telah menerima wahyu serupa yang juga disampaikan sebelumnya oleh Abdullah bin Zaid bin Sa'labah.

Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah tentang mimpi, melainkan bukti bagaimana agama mulai meresap ke dalam sendi-sendi disiplin komunitas Muslim. Azan, dalam interpretasi Muhammad Husain Haekal dalam buku Al-Faruq Umar (Pustaka Litera AntarNusa, 2000), adalah seruan bagi disiplin. Bagi umat yang sedang membangun fondasi di tanah asing, disiplin adalah kekuatan. Bahwa ide tersebut muncul dari Umar sebelum wahyu turun, menunjukkan bahwa pikiran sang tokoh telah sepenuhnya tertumpu pada penguatan struktur dan ketertiban umat.

Membangun Disiplin di Tengah Oposisi

Sejak azan berkumandang lima kali sehari di langit Medinah, psikologi umat berubah. Mereka kini menjadi kelompok yang lebih terorganisasi, jauh lebih unggul dibandingkan kondisi mereka saat masih tertindas di Mekah. Namun, kenyamanan ini tidak datang gratis. Kelompok Yahudi dan kaum musyrik yang merasa terancam dengan pesatnya pertumbuhan Islam mulai menyusun strategi oposisi dan persekongkolan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya