Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 11 Agustus 2026
home sosok muslim detail berita

Ustaz Berotot dan Ujian Muru'ah di Era Media Sosial

ahmad zuhdi Selasa, 11 Agustus 2026 - 06:00 WIB
Ustaz Berotot dan Ujian Muru'ah di Era Media Sosial
LANGIT7.ID, Jakarta; - ‎Pembahasan mengenai etika dan norma berpakaian serta berilmu kembali menjadi sorotan publik saat seorang da'i, kerap memamerkan bentuk tubuh serta ototnya di platform media sosial. Tindakan ini memicu kritik keras dari kalangan masyarakat (warganet) dan para penuntut ilmu. ‎‎Dalam menilai fenomena ini secara objektif, ajaran Islam sesungguhnya telah meletakkan fondasi yang sangat kuat dalam Al-Qur'an mengenai pentingnya sifat malu (al-haya') bagi setiap muslim. Salah satunya tercermin dalam kisah putri Nabi Syu'aib ketika berjalan menemui Nabi Musa 'Alaihis Salam sebagaimana diabadikan dalam Surah Al-Qashas ayat 25:‎‎فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ‎‎"Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua perempuan itu berjalan dengan malu-malu..." (QS. Al-Qashas: 25). ‎‎Ayat ini menunjukkan bahwa sifat malu adalah hiasan utama yang menjaga kehormatan dan martabat seseorang di hadapan publik.‎‎Prinsip malu ini ditegaskan secara lisan oleh Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melalui berbagai riwayat hadits yang shahih. Dalam sebuah hadits muttafaq 'alaih, Nabi Muhammad SAW menegaskan kedudukan sifat malu dalam struktur keimanan:‎‎الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ‎‎"Iman itu ada tujuh puluh sekian atau enam puluh sekian cabang. Yang paling utama adalah ucapan 'Laa ilaha illallah' dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang dari iman." (HR Bukhari dan Muslim). ‎‎Kedudukan sifat malu tidak dapat dipisahkan dari kadar keimanan seorang hamba; ketika rasa malu memudar, keimanan dan akidah seseorang pun patut dipertanyakan. Rasa malu bertindak sebagai benteng (junnah) yang menahan seorang muslim dari dorongan untuk mempertontonkan hal-hal yang tidak sepantasnya di depan publik.‎‎Peringatan tegas mengenai dampak hilangnya rasa malu juga terekam dalam sebuah hadits populer yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:‎‎إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ‎‎"Sesungguhnya di antara perkataan kenabian pertama yang dijumpai manusia adalah: Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu." (HR Bukhari). ‎‎Para ulama menjelaskan bahwa sabda ini mengandung makna ancaman sekaligus sindiran yang tajam. Ketika rasa malu telah sirna dari dada seorang da'i, ia akan dengan mudah melakukan tindakan yang meruntuhkan wibawa agamanya, tanpa peduli apakah tindakannya pantas atau justru mendatangkan fitnah bagi umat yang mengawasinya.‎‎Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap menjaga martabat diri dikenal dengan istilah muru'ah. Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan hakikat muru'ah sebagai berikut:‎‎قَوَّامُ الخُلُقِ الحَسَنِ هُوَ المُرُوءَةُ وَالحَيَاءُ، فَمَنْ لاَ مُرُوءَةَ لَهُ وَلاَ حَيَاءَ لَهُ لاَ يَكُونُ حَسَنَ الخُلُقِ‎‎"Pilar utama dari akhlak yang baik adalah muru'ah dan rasa malu. Barangsiapa yang tidak memiliki muru'ah dan rasa malu, maka ia tidak akan memiliki akhlak yang baik." ‎‎Seseorang yang memiliki muru'ah tinggi akan sangat menjaga pandangan masyarakat terhadap kehormatan agamanya, sehingga ia tidak akan melakukan perbuatan yang terkesan murahan atau sekadar mengumbar hawa nafsu, meskipun perbuatan tersebut di luar perkara yang secara tegas diharamkan.‎‎Sejalan dengan penjelasan tersebut, ulama lainnya seperti Imam Asy-Syafi'i dan Imam An-Nawawi menekankan bahwa muru'ah seorang penuntut ilmu dan ulama dapat gugur akibat perbuatan-perbuatan yang merusak kewibawaan (isqathul muru'ah). ‎‎Menelanjangi atau mempertontonkan lekuk tubuh, memamerkan kemolekan fisik, serta bertingkah narsis di depan umum merupakan contoh nyata perbuatan yang mencederai muru'ah. ‎‎Dalam standar fiqih dan adab para da'i, perbuatan yang terlihat remeh seperti bertelanjang dada atau bersolek secara berlebihan di depan publik dapat membatalkan kedudukan seseorang sebagai saksi yang adil serta menurunkan kepercayaan umat terhadap ilmu yang dibawanya. ‎‎Apalagi dalam disiplin ilmu hadits, al-'adalah (sifat adil perawi) menjadi salah satu syarat kesahihan suatu hadits. Adil atau 'adalah pada konteks ini bukan berarti seperti adilnya seorang bapak kepada anak atau seorang hakim kepada terdakwa. Adil disini adalah senantiasa bertakwa, menjaga kehormatan diri (muru'ah), serta menjauhi dosa besar dan maksiat agar riwayatnya dapat dipercaya.‎‎Fenomena Ustaz yang memamerkan otot di media sosial menjadi bukti nyata betapa bergesernya pemahaman muru'ah di era digital. Media sosial kerap kali menjebak penggunanya ke dalam budaya narsisme, yaitu dorongan untuk senantiasa memamerkan fisik demi meraih likes, popularitas, atau pujian dari para pengikutnya. Kendati ingin memotivasi dengan alasan menjaga kesehatan, hendaknya tidak melampaui batas ketabuan yang menjadi living law masyarakat Indonesia.‎‎Ketika seorang penceramah terseret dalam arus budaya ini, ia secara tidak sadar telah menukarkan kemuliaan ilmunya dengan kepuasan ego yang dangkal. Tubuh yang seharusnya dijaga keagungannya justru dijadikan bahan tontonan publik yang memicu persepsi sensual dan godaan pikiran.‎‎Seorang penceramah atau da'i memikul tanggung jawab moral yang jauh lebih berat ketimbang masyarakat biasa. Figur da'i adalah representasi dari ajaran Islam yang dipundaknya terpatri peran sebagai pewaris para nabi (waratsatul anbiya'). Oleh karena itu, etika dalam bergaul dan berinteraksi di media sosial harus menjadi perhatian utama. ‎‎Media sosial bagi seorang penceramah seharusnya difungsikan murni sebagai sarana syiar, penyebaran ilmu, dan edukasi moral, bukan media untuk mempertontonkan bentuk fisik atau gaya hidup yang hedonistik dan narsis.‎‎Kehadiran da'i di media sosial menuntut tingkat kehati-hatian (wara') yang ekstra tinggi. Setiap foto, video, maupun narasi yang diunggah akan dinilai dan ditiru oleh ribuan hingga jutaan pengikutnya. Ketika seorang pendakwah menampilkan citra yang menonjolkan otot dan seksualitas fisik, ia tidak hanya meruntuhkan kehormatan dirinya sendiri, tetapi juga memberikan preseden buruk bagi generasi muda. Umat dapat kehilangan pegangan etis dan menganggap bahwa perilaku umbar fisik adalah hal yang wajar serta diridhai dalam ajaran Islam.‎‎فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : «مَنْ سَنَّ فِي الإِسلاَم سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا، وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، مِنْ غَيرِ أَنْ يَنْقُصَ مِن أُجُورِهِم شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسلاَم سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيه وِزْرُهَا، وَوِزرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بعدِه، من غير أن ينقُص مِن أَوزَارِهَم شيء». ‎‎Maka Rasulullah -ṣallallāhu 'alaihi wa sallam- bersabda, "Siapa mencontohkan (memulai) sunah (perbuatan) yang baik dalam Islam maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkan sunah tersebut setelahnya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala mereka. Dan siapa mencontohkan sunah (perbuatan) yang buruk, maka ia menanggung dosa dari perbuatannya dan dosa orang yang melakukannya setelahnya, tanpa berkurang sedikit pun dari dosa mereka." (HR Muslim).‎‎Oleh sebab itu, penting bagi orang yang setengah 'alim untuk senantiasa melakukan evaluasi diri (muhasabah) dan mengingat kembali hakikat dari aktivitas dakwah. Dakwah yang membekas di hati umat bukanlah dakwah yang mengandalkan keunggulan penampilan fisik atau fisik yang atletis, melainkan dakwah yang terpancar dari keikhlasan, kedalaman ilmu, serta keteladanan akhlak. ‎‎Seorang penyeru kebaikan hendaknya lebih fokus memperindah kualitas akidah dan keluhuran akhlakul karimah ketimbang sibuk membentuk serta memamerkan moleknya fisik di balik kamera.‎‎Mauizah hasanah ini hendaknya dimaknai sebagai nasihat keagamaan demi menjaga kesucian institusi dakwah itu sendiri. Sudah saatnya para pendakwah mengembalikan fungsi media sosial sebagai mimbar yang memancarkan nilai-nilai keimanan, kerendahan hati, dan muru'ah. ‎‎Melalui penjagaan terhadap rasa malu dan menjauhi perilaku narsis, seorang da'i akan mampu mempertahankan kehormatan dirinya (muru'ah), menjaga wibawa ilmu yang diembannya, serta menjadi teladan sejati yang membimbing masyarakat menuju keridhaan Allah SWT.‎

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 11 Agustus 2026
Imsak
04:34
Shubuh
04:44
Dhuhur
12:01
Ashar
15:22
Maghrib
17:58
Isya
19:08
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada Allah. Dialah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana.
QS. Al-Hadid:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan