home masjid

Air Mata Muharam dari Karbala: Dua Sisi Memandang Asyura

Ahad, 28 Juni 2026 - 05:20 WIB
Kematian tragis Husain di Hari Asyura memicu polarisasi tradisi peringatan yang sangat ekstrem di dalam tubuh umat Islam dari abad ke abad. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Matahari tepat berada di puncaknya ketika deru angin gurun menerbangkan debu-debu kering di Padang Karbala. Di tempat terpencil itu, waktu seolah berhenti pada hari Jumat, 10 Muharam tahun 61 Hijriah. Husain bin Ali bin Abi Thalib, cucu kesayangan Nabi Muhammad, berdiri tegak dalam kepungan rapat4000 pasukan bersenjata lengkap.

Di sekelilingnya, jasad puluhan keluarga dan pendukung setianya sudah terbujur kaku di atas pasir yang memerah. Dengan tubuh yang melemah akibat rasa haus yang membakar dan beberapa luka sabetan, Husain menghadapi detik-detik terakhir hidupnya sendirian.

Momentum berdarah di padang tandus Irak ini menjadi titik balik sejarah yang tidak pernah dilupakan. Peristiwa ini kemudian melahirkan garis demarkasi emosional dan teologis yang sangat tebal dalam ingatan kolektif kaum Syiah di seluruh dunia.

Bagi kalangan Syiah, Hari Asyura memiliki kedudukan yang sangat sakral. Hari tersebut bukan lagi sekadar penanda waktu dalam kalender Hijriah, melainkan sebuah simbol penderitaan, keadilan, dan perlawanan terhadap kezaliman. Akar dari kesakralan ini bermula dari konstelasi politik pasca-wafatnya Muawiyah.

Ketika Yazid bin Muawiyah dibaiat sebagai khalifah baru di wilayah Syam, Husain secara tegas menolak untuk memberikan pengakuan legitimasi. Beliau memilih meninggalkan Madinah menuju Makkah untuk menghindari konflik langsung. Langkah politik Husain ini didengar oleh penduduk Kufah di Irak yang kemudian mengirimkan lebih dari 500 surat dukungan.

Berdasarkan catatan Utsman Muhammad al-Khamis dalam buku Huqbah min al-Tarikh halaman 140, ratusan surat tersebut berisi pernyataan bahwa mereka menolak membaiat Yazid dan hanya mau taat kepada keluarga Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin tertinggi umat Islam.

Guna memastikan keseriusan komitmen penduduk Kufah, Husain mengutus sepupunya yang bernama Muslim bin Aqil. Di Kufah, Muslim mendapat sambutan luar biasa dari ribuan orang yang menyatakan kesetiaan teologis kepada Husain.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya