home masjid

Akrobat Mitos di Hari Asyura: Antara Ritual Bubur dan Kalori Teologis

Ahad, 28 Juni 2026 - 05:33 WIB
Bubur Asyura. Tragedi kebudayaan yang sesungguhnya terjadi ketika antusiasme masyarakat untuk mengaduk kuali bubur Asyura justru menggeser ibadah yang memiliki dalil kuat dari Nabi Muhammad. IST
LANGIT7.ID-Aroma gurih santan, kunyit, dan berbagai macam sayuran menyeruak dari sebuah kuali besi berukuran raksasa di pelataran sebuah masjid di Kalimantan Selatan. Sejak pagi buta pada hari Jumat, 10 Muharam, puluhan ibu sibuk mengaduk adonan beras yang perlahan mengental. Di sudut lain, para pria paruh baya menyiapkan mangkuk-mangkuk plastik untuk membagikan hidangan tersebut kepada para tetangga.

Pemandangan ini akrab dikenal sebagai tradisi pembuatan bubur Asyura. Ritual tahunan ini jamak ditemui di berbagai daerah di Indonesia setiap memasuki bulan Muharam. Di balik keriuhan gotong royong warga, mangkuk-mangkuk bubur tersebut membawa beban narasi sejarah yang panjang. Narasi ini bercampur aduk antara memori duka, kearifan lokal, dan tumpukan mitos yang tidak memiliki jangkar sahih dalam literatur keagamaan Islam.

Konstruksi kepercayaan masyarakat seputar Hari Asyura memang menyerupai pasar malam teologis. Berbagai legenda instan tumbuh subur di benak sebagian umat Islam. Mulai dari klaim bahwa 10 Muharam adalah hari penciptaan Nabi Adam, hari kelahiran Nabi Ibrahim, hingga keyakinan bahwa hari kiamat pasti akan jatuh pada tanggal tersebut.

Bahkan, muncul mitos medis lokal yang menyatakan bahwa siapa saja yang mandi besar pada hari Asyura akan kebal dari serangan penyakit selama setahun penuh. Namun, jika dilacak menggunakan metodologi kritik hadis, seluruh rangkaian cerita dramatis tersebut runtuh karena tidak memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan.

Sengkarut mitos ini semakin keruh oleh warisan rivalitas politik masa lalu antara kaum Syiah dan kelompok Nashibah yang membenci keluarga Ali bin Abi Thalib.

Ibnu Taimiyah dalam kitab Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyyah mencatat bahwa kelompok Nashibah sengaja memproduksi riwayat-riwayat palsu untuk melawan tradisi duka kaum Syiah. Salah satunya adalah anjuran memakai celak mata, mandi besar, dan menghidangkan makanan mewah secara berlebihan pada hari Asyura sebagai simbol kegembiraan.

Sebaliknya, Imam Ahmad bin Hanbal ketika ditanya oleh Al-Harb al-Karmani mengenai hadis kelonggaran nafkah keluarga di hari Asyura secara tegas menjawab bahwa riwayat tersebut tidak memiliki sanad yang terpercaya. Para imam mazhab tidak pernah mengajarkan ritual kosmetik semacam itu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya