home masjid

Ijtihad Politik Umar bin Khattab: Ketajaman Visi Sang Al-Faruq Membaca Gerakan Munafik

Senin, 29 Juni 2026 - 17:00 WIB
Kisah Abdullah bin Ubay memperlihatkan dinamika luar biasa dalam perumusan hukum pada masa awal Islam. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID - Angin gurun berembus kering di pinggiran kota Madinah ketika sebuah kabar provokasi membakar telinga para sahabat. Abdullah bin Ubay, tokoh yang gagal bertakhta sebagai raja Madinah akibat kedatangan Islam, kembali melontarkan kalimat hasutan yang merendahkan kaum mukminin.

Di sudut rukun kota, Umar bin Khattab berdiri dengan rahang mengencang. Bagi Umar, garis batas antara iman dan kekufuran sudah terlampau sering dikaburkan oleh diplomasi palsu sang gembong munafik. Umar segera menghadap Nabi Muhammad, mendesak agar leher sang pengkhianat segera dipenggal demi menjaga kedaulatan daulah yang baru seumur jagung.

Namun, di hadapan ketegasan Umar yang meluap-luap, Nabi Muhammad justru memilih jalan yang sama sekali berbeda: sebuah keputusan politik tingkat tinggi yang mengutamakan ketenangan sosial daripada tumpahan darah.

Ketegangan psikologis ini terekam secara rinci dalam buku klasik Al-Faruq Umar karya sejarawan Mesir Muhammad Husain Haekal yang diterjemahkan oleh Ali Audah.

Ketika isu rencana eksekusi Abdullah bin Ubay merebak, anak kandungnya sendiri yang bernama Abdullah—seorang muslim yang taat—datang menghadap Nabi Muhammad. Dengan penuh kepasrahan namun rasional, ia menawarkan diri untuk mengeksekusi ayahnya sendiri jika perintah itu benar-benar turun.

Ia khawatir jika orang lain dari suku Khazraj yang membunuh ayahnya, ikatan darah akan memicu dendam kesumat yang berujung pada perang saudara.

Menanggapi situasi kritis tersebut, Nabi Muhammad dengan tenang menjawab bahwa mereka tidak akan membunuhnya, melainkan harus tetap berlaku baik dan menemaninya selama ia masih hidup di Madinah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya