home masjid

Kisah Protes Keras Umar bin Khattab terhadap Klausul Perjanjian Hudaibiah

Selasa, 30 Juni 2026 - 04:23 WIB
Umar bin Khattab memberikan teladan penting tentang bagaimana sebuah oposisi pemikiran di internal pemerintahan dikelola dengan basis argumentasi, bukan sentimen personal. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Padang pasir Hudaibiah yang gersang menjadi saksi pergolakan batin yang luar biasa pada tahun keenam setelah hijrah. Nabi Muhammad baru saja mengumumkan keberangkatan kaum muslimin dari Madinah menuju Mekah untuk menunaikan ibadah haji, bukan untuk memicu peperangan.

Namun, di gerbang masuk kota suci, pasukan berkuda Quraisy melakukan penghadangan ketat. Mereka bersumpah tidak akan membiarkan kaum muslimin masuk dengan paksa.

Guna memecah kebuntuan, Nabi Muhammad berniat mengutus Umar bin Khattab untuk bernegosiasi. Sebuah mandat yang langsung ditolak Umar dengan argumen taktis yang realistis.

Umar khawatir akan keselamatan dirinya karena ketiadaan perlindungan dari Banu Adi bin Ka'b di Mekah, ditambah rekam jejak permusuhannya yang sengit dengan kaum Quraisy pada masa lalu.

Umar kemudian menyarankan nama Utsman bin Affan, yang memiliki jaringan kekerabatan lebih kuat di Mekah. Negosiasi Usman yang berjalan alot dan lama di dalam kota sempat memicu rumor bahwa ia telah dibunuh.

Isu maut ini menggerakkan Nabi Muhammad dan para sahabat untuk mengikrarkan Bai'at Ridwan; sebuah sumpah setia untuk memerangi Quraisy sampai titik darah terakhir.

Beruntung, Utsman kembali dengan selamat membawa draf perdamaian. Demi menjaga wibawa politik di kalangan bangsa Arab, kaum Quraisy menolak kedatangan muslimin tahun itu, namun menawarkan gencatan senjata jangka panjang. Di sinilah badai domestik di internal kaum muslimin mulai berembus kencang.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya