Fadli Zon Perluas Kolaborasi dengan MUI untuk Perkuat Pelestarian Budaya Islam Indonesia
Tim langit 7
Rabu, 01 Juli 2026 - 14:08 WIB
Fadli Zon Perluas Kolaborasi dengan MUI untuk Perkuat Pelestarian Budaya Islam Indonesia
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menegaskan komitmen Kementerian Kebudayaan untuk memperluas kolaborasi dengan berbagai lembaga, institusi, dan komunitas dalam upaya memajukan kebudayaan Indonesia, termasuk bersama Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam Majelis Ulama Indonesia (MUI). Hal tersebut disampaikan olehnya saat melakukan pertemuan strategis dengan jajaran Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Dalam pertemuan tersebut, Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI menyampaikan rencana penyelenggaraan Pra-kongres Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertajuk "Arah Baru Budaya Islam Indonesia: Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah, Akar Persatuan, dan Kemajuan Bangsa." Kegiatan yang mempertemukan para seniman, budayawan, ulama, dan tokoh kebudayaan Islam Indonesia dalam rangkaian ”Maestro Summit” akan berlangsung pada 18–19 Juli 2026 di Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Gintung, Balaraja, Tangerang.
Memulai diskusi, Menbud menyampaikan bahwa pelestarian budaya Islam telah dilakukan melalui berbagai program pelindungan terhadap warisan budaya, baik benda maupun takbenda. Pada aspek budaya benda, Kementerian Kebudayaan terus mendukung pelestarian berbagai masjid bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Sementara pada aspek budaya takbenda, dukungan diberikan terhadap berbagai bentuk ekspresi budaya Islam yang berkembang di Indonesia sebagai hasil proses akulturasi dengan tradisi dan budaya.
“Yang kita buat platformnya itu salah satunya di bidang film, yaitu Santri Film Festival, yang sekarang menjadi bagian dari kegiatan strategis dan prioritas di Dana Indonesiaraya. Karena kita yakin bahwa di pesantren juga cukup banyak talenta-talenta. Melalui Santri Film Festival, Kementerian Kebudayaan memberikan ruang bagi talenta-talenta kreatif di lingkungan pesantren untuk mengangkat berbagai cerita, ajaran, dakwah, maupun kehidupan pesantren melalui medium film,” jelas Menbud dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026)..
Selain perfilman, Menteri Kebudayaan juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan turut membuka peluang pengembangan seni bernuansa Islami, termasuk kasidah, melalui kolaborasi bersama organisasi dan komunitas terkait.
Erick Yusuf, Wakil Sekjen Bidang Seni Budaya MUI, menyampaikan bahwa dalam kegiatan ”Maestro Summit” mendatang juga diharapkan dapat dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Kebudayaan dan MUI sebagai bentuk sinergi program ke depan. Selain itu MUI juga turut mengundang Menteri Fadli Zon untuk menyampaikan pidato peradaban sebagai bagian dari penyusunan manifesto peradaban Islam Indonesia.
Disamping itu, Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI juga menawarkan sejumlah ruang kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan, antara lain pengembangan Festival Film Santri, penelitian dan penulisan sejarah Islam Indonesia, pengembangan seni musik Islami, lomba cipta lagu anak, serta berbagai program penguatan seni budaya Islam. Sedangkan dalam bidang literasi dan dokumentasi kebudayaan, telah disusun Ensiklopedi Budaya Islam Indonesia sebanyak tujuh jilid dan berencana melanjutkan penyusunan Sejarah Umat Islam Indonesia serta Ensiklopedi Seni Budaya Islam Indonesia yang mendokumentasikan sekitar 500 unsur budaya Islam dari berbagai daerah di Indonesia.
Dalam pertemuan tersebut, Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI menyampaikan rencana penyelenggaraan Pra-kongres Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) bertajuk "Arah Baru Budaya Islam Indonesia: Budaya Islam sebagai Kekuatan Dakwah, Akar Persatuan, dan Kemajuan Bangsa." Kegiatan yang mempertemukan para seniman, budayawan, ulama, dan tokoh kebudayaan Islam Indonesia dalam rangkaian ”Maestro Summit” akan berlangsung pada 18–19 Juli 2026 di Pondok Pesantren Daar El-Qolam, Gintung, Balaraja, Tangerang.
Memulai diskusi, Menbud menyampaikan bahwa pelestarian budaya Islam telah dilakukan melalui berbagai program pelindungan terhadap warisan budaya, baik benda maupun takbenda. Pada aspek budaya benda, Kementerian Kebudayaan terus mendukung pelestarian berbagai masjid bersejarah yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Sementara pada aspek budaya takbenda, dukungan diberikan terhadap berbagai bentuk ekspresi budaya Islam yang berkembang di Indonesia sebagai hasil proses akulturasi dengan tradisi dan budaya.
“Yang kita buat platformnya itu salah satunya di bidang film, yaitu Santri Film Festival, yang sekarang menjadi bagian dari kegiatan strategis dan prioritas di Dana Indonesiaraya. Karena kita yakin bahwa di pesantren juga cukup banyak talenta-talenta. Melalui Santri Film Festival, Kementerian Kebudayaan memberikan ruang bagi talenta-talenta kreatif di lingkungan pesantren untuk mengangkat berbagai cerita, ajaran, dakwah, maupun kehidupan pesantren melalui medium film,” jelas Menbud dalam keterangannya, Rabu (1/7/2026)..
Selain perfilman, Menteri Kebudayaan juga menyampaikan bahwa Kementerian Kebudayaan turut membuka peluang pengembangan seni bernuansa Islami, termasuk kasidah, melalui kolaborasi bersama organisasi dan komunitas terkait.
Erick Yusuf, Wakil Sekjen Bidang Seni Budaya MUI, menyampaikan bahwa dalam kegiatan ”Maestro Summit” mendatang juga diharapkan dapat dilakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementerian Kebudayaan dan MUI sebagai bentuk sinergi program ke depan. Selain itu MUI juga turut mengundang Menteri Fadli Zon untuk menyampaikan pidato peradaban sebagai bagian dari penyusunan manifesto peradaban Islam Indonesia.
Disamping itu, Lembaga Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI juga menawarkan sejumlah ruang kolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan, antara lain pengembangan Festival Film Santri, penelitian dan penulisan sejarah Islam Indonesia, pengembangan seni musik Islami, lomba cipta lagu anak, serta berbagai program penguatan seni budaya Islam. Sedangkan dalam bidang literasi dan dokumentasi kebudayaan, telah disusun Ensiklopedi Budaya Islam Indonesia sebanyak tujuh jilid dan berencana melanjutkan penyusunan Sejarah Umat Islam Indonesia serta Ensiklopedi Seni Budaya Islam Indonesia yang mendokumentasikan sekitar 500 unsur budaya Islam dari berbagai daerah di Indonesia.