Agar Pesantren Tetap Optimal di Masa Pandemi, Gus Yahya Minta 4 Hal ke Pemerintah
Muhajirin
Jum'at, 22 Oktober 2021 - 09:04 WIB
KH Yahya Cholil Staquf (foto: jatim.nu.or.id)
Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf atau biasa disapa Gus Yahya, menilai Covid-19 membuat pengasuh pesantren berpikir keras untuk tetap menjalankan pendidikan pada masa pandemi Covid-19.
Dampak corona terhadap pesantren tak hanya meliputi soal materi, namun juga berpengaruh pada nilai fundamental tentang metode pendidikan di pesantren. Ini karena salah satu prinsip metode pendidikan pesantren adalah santri dan guru tinggal bersama dalam satu pondok.
“Ini bukan hanya soal metode pedagogi, tetapi ini sudah menyangkut nilai yang fundamental dalam wawasan keagamaan pesantren,” kata Gus Yahya dalam webinar Hari Santri Nasional 2021: Tetap Menyantri di Masa Pandemi, Kamis malam (21/10/2021).
Baca Juga: Terinspirasi Ki Hajar Dewantara, Pesantren Harus Jadi Sistem Pendidikan Nasional
Praktik hidup bersama antara guru dan santri merupakan poin penting dalam kehidupan pesantren. Sebab, pesantren membuat sistem pendidikan bukan sekadar pengajaran kognitif, tetapi harus sampai kepada transfer spiritual.
"Apa yang disebut sebagai cahaya hidayah dari guru kepada murid kemudian diistilahkan sebagai irsyad. Jadi, bukan hanya taklim,” tuturnya.
Dampak corona terhadap pesantren tak hanya meliputi soal materi, namun juga berpengaruh pada nilai fundamental tentang metode pendidikan di pesantren. Ini karena salah satu prinsip metode pendidikan pesantren adalah santri dan guru tinggal bersama dalam satu pondok.
“Ini bukan hanya soal metode pedagogi, tetapi ini sudah menyangkut nilai yang fundamental dalam wawasan keagamaan pesantren,” kata Gus Yahya dalam webinar Hari Santri Nasional 2021: Tetap Menyantri di Masa Pandemi, Kamis malam (21/10/2021).
Baca Juga: Terinspirasi Ki Hajar Dewantara, Pesantren Harus Jadi Sistem Pendidikan Nasional
Praktik hidup bersama antara guru dan santri merupakan poin penting dalam kehidupan pesantren. Sebab, pesantren membuat sistem pendidikan bukan sekadar pengajaran kognitif, tetapi harus sampai kepada transfer spiritual.
"Apa yang disebut sebagai cahaya hidayah dari guru kepada murid kemudian diistilahkan sebagai irsyad. Jadi, bukan hanya taklim,” tuturnya.