Dua Tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf, Sektor Energi Belum Menggembirakan
Garry Talentedo Kesawa
Jum'at, 22 Oktober 2021 - 16:48 WIB
Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto. (Foto: dpr.go.id/Azka/Man)
Dua tahun masa kerja Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf dinilai masih belum berhasil membangun bidang energi dengan baik. Hal itu seperti disampaikan Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto.
Menurut Mulyanto, bidang energi nasional hingga kini masih dalam posisi terpuruk dan belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan.
"Prestasinya masih datar-datar saja, bahkan cenderung merah. Sektor minyak dan gas (migas) baik impor, lifting, maupun pembangunan kilang baru masih jeblok," kata Mulyanto dalam keterangan persnya, seperti dikutip Jumat (22/10).
Politisi Fraksi PKS itu menjelaskan jika impor migas nasional, terutama BBM dan elpiji, tidak menurun dan bahkan terus melonjak. Akibatnya, defisit transaksi berjalan membengkak.
Baca juga:Dorong Transformasi Bisnis, PLN Pacu Inovasi Karyawan Lewat Ajang LIKE
Berdasarkan data BPS pada bulan Mei 2021, lonjakan impor migas menjadi sebesar 2,06 miliar dollar AS. Meningkat 212 persen jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun 2020 (year-on-year).
Defisit transaksi berjalan untuk sektor migas ini sebesar 1,12 miliar dollar AS, meningkat sebesar 1020 persen dibandingkan tahun 2020 (y-on-y) dan meroket lebih dari sepuluh kali lipat.
Menurut Mulyanto, bidang energi nasional hingga kini masih dalam posisi terpuruk dan belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan.
"Prestasinya masih datar-datar saja, bahkan cenderung merah. Sektor minyak dan gas (migas) baik impor, lifting, maupun pembangunan kilang baru masih jeblok," kata Mulyanto dalam keterangan persnya, seperti dikutip Jumat (22/10).
Politisi Fraksi PKS itu menjelaskan jika impor migas nasional, terutama BBM dan elpiji, tidak menurun dan bahkan terus melonjak. Akibatnya, defisit transaksi berjalan membengkak.
Baca juga:Dorong Transformasi Bisnis, PLN Pacu Inovasi Karyawan Lewat Ajang LIKE
Berdasarkan data BPS pada bulan Mei 2021, lonjakan impor migas menjadi sebesar 2,06 miliar dollar AS. Meningkat 212 persen jika dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun 2020 (year-on-year).
Defisit transaksi berjalan untuk sektor migas ini sebesar 1,12 miliar dollar AS, meningkat sebesar 1020 persen dibandingkan tahun 2020 (y-on-y) dan meroket lebih dari sepuluh kali lipat.