Juarai Kompetisi World Bank, Alumnus ITS Kembangkan Teknologi Tambak Cerdas
Dwi sasongko
Rabu, 22 Juli 2026 - 12:02 WIB
Alumnus ITS Roikhanatun Nafiah saat menerima penghargaan sebagai Juara 1 dalam 13th World Bank Group Youth Summit 2026 di Washington DC, Amerika Serikat. (Dok: Humas ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Salah satu alumnus Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil menorehkan prestasi global yang membanggakan melalui inovasi teknologi dalam sektor budidaya perikanan. Berangkat sebagai Founder dan CEO Crustea Indonesia, Roikhanatun Nafi'ah sukses meraih Juara 1 pada gelaran 13th World Bank Group Youth Summit di Washington DC, Amerika Serikat, belum lama ini.
Sosok yang akrab disapa Nafi’ tersebut menawarkan solusi budidaya perikanan cerdas untuk petambak kecil melalui Crustea Indonesia. Bersama dengan rekannya, Prisma Riashuda Prakosa yang merupakan alumnus Departemen Teknik Elektro ITS, keduanya kerap mendampingi petambak yang menghadapi gagal panen, keterbatasan listrik, dan tingginya biaya operasional. “Jadi kami membangun solusi dari masalah yang kami alami sendiri sebagai petambak,” tutur Nafi’ dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).
Berdasarkan kondisi lapangan yang ada, Nafi’ menjelaskan bahwa rendah dan tidak stabilnya kadar oksigen terlarut kerap memicu kegagalan panen bagi para petambak. Selain itu, tingginya biaya operasional seperti listrik dan bahan bakar untuk pompa kerap menjadi dua masalah utama di pertambakan.
Berdasarkan dua masalah utama yang teridentifikasi, Crustea Indonesia kemudian memusatkan inovasi pada dua persoalan utama dengan satu solusi strategis. Dengan berbekal keilmuannya dalam bidang Teknik Industri, Nafi’ mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kualitas air sekaligus menekan biaya energi selama proses budidaya. “Untuk mengatasi masalah efisiensi dan produksi, Crustea Indonesia mengembangkan ekosistem budidaya berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) dan energi terbarukan,” terangnya.
Untuk peningkatan kualitas air, Nafi’ menawarkan solusi Eco-Aerator bertenaga surya yang menghasilkan oksigen lebih stabil dengan konsumsi energi lebih rendah. Teknologi ini juga mendukung petambak di wilayah tanpa akses listrik. “Aerator cerdas ramah lingkungan ini menghasilkan oksigen secara stabil dan lebih tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik PLN maupun BBM,” ungkap Nafi’.
Lebih lanjut, Crustea Indonesia juga menghadirkan sistem AIoT untuk memantau dan mengendalikan kualitas air secara otomatis. Sistem tersebut mengukur kadar oksigen, suhu, pH, dan salinitas secara real-time. Ketika kadar oksigen turun, aerator akan menyala otomatis, dan begitu sebaliknya, sistem mematikan aerator saat kondisi kembali optimal sehingga penggunaan energi menjadi lebih efisien.
Selain itu, perusahaan teknologi akuakultur ini juga mengembangkan sistem manajemen energi pintar yang memantau konsumsi listrik, pengendalian perangkat jarak jauh, serta memberikan peringatan dini jika terjadi gangguan. Menurut Nafi', pengembangan teknologi terus diarahkan menuju AI precision farming agar keputusan budidaya semakin akurat. “Jadi kami menekankan bagaimana agar teknologi harus membantu petambak bekerja lebih efisien, bukan menambah beban mereka,” tegas Nafi’.
Sosok yang akrab disapa Nafi’ tersebut menawarkan solusi budidaya perikanan cerdas untuk petambak kecil melalui Crustea Indonesia. Bersama dengan rekannya, Prisma Riashuda Prakosa yang merupakan alumnus Departemen Teknik Elektro ITS, keduanya kerap mendampingi petambak yang menghadapi gagal panen, keterbatasan listrik, dan tingginya biaya operasional. “Jadi kami membangun solusi dari masalah yang kami alami sendiri sebagai petambak,” tutur Nafi’ dalam keterangannya, Rabu (22/7/2026).
Berdasarkan kondisi lapangan yang ada, Nafi’ menjelaskan bahwa rendah dan tidak stabilnya kadar oksigen terlarut kerap memicu kegagalan panen bagi para petambak. Selain itu, tingginya biaya operasional seperti listrik dan bahan bakar untuk pompa kerap menjadi dua masalah utama di pertambakan.
Berdasarkan dua masalah utama yang teridentifikasi, Crustea Indonesia kemudian memusatkan inovasi pada dua persoalan utama dengan satu solusi strategis. Dengan berbekal keilmuannya dalam bidang Teknik Industri, Nafi’ mengembangkan teknologi untuk meningkatkan kualitas air sekaligus menekan biaya energi selama proses budidaya. “Untuk mengatasi masalah efisiensi dan produksi, Crustea Indonesia mengembangkan ekosistem budidaya berbasis Artificial Intelligence of Things (AIoT) dan energi terbarukan,” terangnya.
Untuk peningkatan kualitas air, Nafi’ menawarkan solusi Eco-Aerator bertenaga surya yang menghasilkan oksigen lebih stabil dengan konsumsi energi lebih rendah. Teknologi ini juga mendukung petambak di wilayah tanpa akses listrik. “Aerator cerdas ramah lingkungan ini menghasilkan oksigen secara stabil dan lebih tinggi, sekaligus mengurangi ketergantungan pada listrik PLN maupun BBM,” ungkap Nafi’.
Lebih lanjut, Crustea Indonesia juga menghadirkan sistem AIoT untuk memantau dan mengendalikan kualitas air secara otomatis. Sistem tersebut mengukur kadar oksigen, suhu, pH, dan salinitas secara real-time. Ketika kadar oksigen turun, aerator akan menyala otomatis, dan begitu sebaliknya, sistem mematikan aerator saat kondisi kembali optimal sehingga penggunaan energi menjadi lebih efisien.
Selain itu, perusahaan teknologi akuakultur ini juga mengembangkan sistem manajemen energi pintar yang memantau konsumsi listrik, pengendalian perangkat jarak jauh, serta memberikan peringatan dini jika terjadi gangguan. Menurut Nafi', pengembangan teknologi terus diarahkan menuju AI precision farming agar keputusan budidaya semakin akurat. “Jadi kami menekankan bagaimana agar teknologi harus membantu petambak bekerja lebih efisien, bukan menambah beban mereka,” tegas Nafi’.