Rektor ITS Suarakan Inklusivitas Kampus di U25 PTN-BH Leaders Forum 2026
Dwi sasongko
Jum'at, 31 Juli 2026 - 14:17 WIB
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD (dua dari kiri) saat jadi pembicara bersama para rektor PTN-BH se-Indonesia dalam U25 PTN-BH Leaders Forum 2026. Dok: Humas ITS
LANGIT7.ID-Surabaya; Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD hadir sebagai narasumber dalam gelar wicara bertajuk Universitas Inklusif dan Antikekerasan: Aksesibilitas, Kesejahteraan, dan Kesempatan yang Setara. Kegiatan yang merupakan rangkaian dari U25 PTN-BH Leaders Forum 2026 itu berlangsung di Universitas Gadjah Mada (UGM) selama dua hari, mulai Rabu (29/7).
Pertemuan ini dirancang sebagai forum strategis bagi pimpinan Perguruan Tinggi Negeri – Berbadan Hukum (PTN-BH) se-Indonesia. Pada agenda gelar wicara tersebut, Bambang mengungkapkan bahwa keunggulan sebuah perguruan tinggi kini tidak lagi diukur sekadar dari pencapaian akademik semata. “Jadi yang menjadi arah melaju universitas untuk mampu membangun ekosistem yang berpusat pada manusia (human-centered ecosystem),” ungkap Bambang dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Mengingat perguruan tinggi memiliki misi utama untuk membangun peradaban manusia, ITS memandang bahwa universitas yang inklusif bukan hanya tempat yang mengakomodasi perbedaan. “Universitas harus menyediakan wadah yang merekayasa setiap individu agar dapat berkembang secara optimal (flourish),” terang sosok nomor satu di ITS tersebut.
Lebih lanjut, Bambang menegaskan bahwa bagi perguruan tinggi teknologi seperti ITS, inovasi tidak hanya dimaknai semata sebagai kemampuan membangun infrastruktur atau menghasilkan teknologi canggih belaka. Ilmu rekayasa teknologi harus diarahkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan.
Untuk mewujudkannya, ITS telah ditopang oleh lima pilar utama, yakni tata kelola, infrastruktur, kampus digital, kesejahteraan, dan inovasi yang inklusif. Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut menjelaskan bahwa kelima pilar ini dirancang secara terintegrasi agar inklusivitas menjadi kultur yang hidup di dalam kampus.
Komitmen nyata ITS dalam menerjemahkan pilar-pilar tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi teknologi asistif ramah disabilitas karya sivitas akademika. Mulai dari Neutrack AI Glove, sarung tangan pintar berbasis AI untuk navigasi tunanetra dan pasien alzheimer, mainan edukasi pra menulis BaaDaaBoo, terapi fisik gamifikasi SMILE Hand Therapy, hingga kursi roda cerdas pengendali gerakan mata MobiAi. “Seluruh inovasi ini menegaskan prinsip bahwa teknologi harus dikembangkan dengan empati agar tidak ada satupun yang tertinggal,” tegas Bambang.
Lebih dari itu, Rektor turut menyoroti pentingnya kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan universitas inklusif. Kampus teknologi dengan ritme akademik yang tinggi menghadirkan tantangan psikologis yang semakin kompleks. Pendekatan Look, Listen, Link menjadi salah satu strategi yang direkomendasikan.
Pertemuan ini dirancang sebagai forum strategis bagi pimpinan Perguruan Tinggi Negeri – Berbadan Hukum (PTN-BH) se-Indonesia. Pada agenda gelar wicara tersebut, Bambang mengungkapkan bahwa keunggulan sebuah perguruan tinggi kini tidak lagi diukur sekadar dari pencapaian akademik semata. “Jadi yang menjadi arah melaju universitas untuk mampu membangun ekosistem yang berpusat pada manusia (human-centered ecosystem),” ungkap Bambang dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).
Mengingat perguruan tinggi memiliki misi utama untuk membangun peradaban manusia, ITS memandang bahwa universitas yang inklusif bukan hanya tempat yang mengakomodasi perbedaan. “Universitas harus menyediakan wadah yang merekayasa setiap individu agar dapat berkembang secara optimal (flourish),” terang sosok nomor satu di ITS tersebut.
Lebih lanjut, Bambang menegaskan bahwa bagi perguruan tinggi teknologi seperti ITS, inovasi tidak hanya dimaknai semata sebagai kemampuan membangun infrastruktur atau menghasilkan teknologi canggih belaka. Ilmu rekayasa teknologi harus diarahkan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan kemanusiaan.
Untuk mewujudkannya, ITS telah ditopang oleh lima pilar utama, yakni tata kelola, infrastruktur, kampus digital, kesejahteraan, dan inovasi yang inklusif. Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut menjelaskan bahwa kelima pilar ini dirancang secara terintegrasi agar inklusivitas menjadi kultur yang hidup di dalam kampus.
Komitmen nyata ITS dalam menerjemahkan pilar-pilar tersebut diwujudkan melalui berbagai inovasi teknologi asistif ramah disabilitas karya sivitas akademika. Mulai dari Neutrack AI Glove, sarung tangan pintar berbasis AI untuk navigasi tunanetra dan pasien alzheimer, mainan edukasi pra menulis BaaDaaBoo, terapi fisik gamifikasi SMILE Hand Therapy, hingga kursi roda cerdas pengendali gerakan mata MobiAi. “Seluruh inovasi ini menegaskan prinsip bahwa teknologi harus dikembangkan dengan empati agar tidak ada satupun yang tertinggal,” tegas Bambang.
Lebih dari itu, Rektor turut menyoroti pentingnya kesehatan mental sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan universitas inklusif. Kampus teknologi dengan ritme akademik yang tinggi menghadirkan tantangan psikologis yang semakin kompleks. Pendekatan Look, Listen, Link menjadi salah satu strategi yang direkomendasikan.