Tafsir Al-Baqarah Ayat 13: Penghinaan Kaum Munafik terhadap Orang Beriman
Ahmad zuhdi
Senin, 03 Agustus 2026 - 06:11 WIB
Tafsir Al-Baqarah Ayat 13: Penghinaan Kaum Munafik terhadap Orang Beriman
Ayat ke-13 dari Surat Al-Baqarah merupakan kelanjutan dari rangkaian penjelas sifat-sifat orang munafik yang telah dipaparkan pada ayat 8 hingga 12. Tema besarnya mengulas penolakan orang-orang munafik terhadap seruan iman serta sikap sombong mereka dalam merendahkan kaum beriman.
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ
"Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (QS Al-Baqarah: 13).
Ayat ini membongkar hakikat kemunafikan, yaitu kelompok yang mengaku beriman namun hatinya menolak, bahkan menghina orang lain yang telah beriman secara tulus. Imam al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada mereka yang berpura-pura berkata beriman kepada Allah dan hari akhir padahal hatinya mengingkari. Ayat ini juga memiliki korelasi erat dengan ayat sebelumnya yang mengulas klaim palsu orang munafik sebagai pembuat perdamaian padahal mereka adalah perusak.
Penafsiran penggalan pertama diawali dengan firman Allah yang berbunyi, "Apabila dikatakan kepada mereka: 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman'". Imam al-Tabari menjelaskan makna seruan tersebut sebagai perintah untuk membenarkan Nabi Muhammad ﷺ dan seluruh ajaran yang dibawanya dari sisi Allah sebagaimana manusia pada umumnya telah membenarkan. Beliau juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maknanya adalah perintah untuk membenarkan sebagaimana para sahabat Nabi telah membenarkan, serta mengakui secara jujur bahwa beliau adalah nabi dan rasul yang membawa kebenaran.
Imam Ibnu Katsir mempertegas penafsiran ini dengan menyatakan bahwa ayat tersebut merupakan seruan Allah kepada orang-orang munafik agar beriman sebagaimana keimanan manusia lain kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya. Dari penjelasan ini terlihat jelas bahwa seruan beriman yang dimaksud adalah tuntutan pembenaran (taṣdīq) secara menyeluruh terhadap kenabian Muhammad ﷺ dan seluruh risalahnya. Adapun frasa al-nās dalam konteks ayat ini merujuk secara khusus kepada para sahabat dan kaum mukminin awal yang telah mendahului mereka dalam keimanan.
Baca Juga:Pembangunan Masjid Dekat Tokyo Diwarnai Protes, Warga Khawatir Identitas Lokal Terkikis
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ ءَامِنُوا۟ كَمَآ ءَامَنَ ٱلنَّاسُ قَالُوٓا۟ أَنُؤْمِنُ كَمَآ ءَامَنَ ٱلسُّفَهَآءُ ۗ أَلَآ إِنَّهُمْ هُمُ ٱلسُّفَهَآءُ وَلَٰكِن لَّا يَعْلَمُونَ
"Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman". Mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu. (QS Al-Baqarah: 13).
Ayat ini membongkar hakikat kemunafikan, yaitu kelompok yang mengaku beriman namun hatinya menolak, bahkan menghina orang lain yang telah beriman secara tulus. Imam al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada mereka yang berpura-pura berkata beriman kepada Allah dan hari akhir padahal hatinya mengingkari. Ayat ini juga memiliki korelasi erat dengan ayat sebelumnya yang mengulas klaim palsu orang munafik sebagai pembuat perdamaian padahal mereka adalah perusak.
Penafsiran penggalan pertama diawali dengan firman Allah yang berbunyi, "Apabila dikatakan kepada mereka: 'Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman'". Imam al-Tabari menjelaskan makna seruan tersebut sebagai perintah untuk membenarkan Nabi Muhammad ﷺ dan seluruh ajaran yang dibawanya dari sisi Allah sebagaimana manusia pada umumnya telah membenarkan. Beliau juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa maknanya adalah perintah untuk membenarkan sebagaimana para sahabat Nabi telah membenarkan, serta mengakui secara jujur bahwa beliau adalah nabi dan rasul yang membawa kebenaran.
Imam Ibnu Katsir mempertegas penafsiran ini dengan menyatakan bahwa ayat tersebut merupakan seruan Allah kepada orang-orang munafik agar beriman sebagaimana keimanan manusia lain kepada Allah dan malaikat-malaikat-Nya. Dari penjelasan ini terlihat jelas bahwa seruan beriman yang dimaksud adalah tuntutan pembenaran (taṣdīq) secara menyeluruh terhadap kenabian Muhammad ﷺ dan seluruh risalahnya. Adapun frasa al-nās dalam konteks ayat ini merujuk secara khusus kepada para sahabat dan kaum mukminin awal yang telah mendahului mereka dalam keimanan.
Baca Juga:Pembangunan Masjid Dekat Tokyo Diwarnai Protes, Warga Khawatir Identitas Lokal Terkikis