Jangan Biarkan Swasta Runtuh
Tim langit 7
Senin, 03 Agustus 2026 - 07:59 WIB
(Dok: Istimewa)
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Apakah Bapak Presiden tahu lebih dari 2000 pendidikan tinggi swasta dalam keadaan collapse? Pendidikan tinggi swasta adalah juga salah satu dari bidang bidang industri jasa. Dari 2000 unit usaha tersebut jika rata rata pegawai adalah 100 maka jumlahnya adalah 200.000 pekerja swasta. Di tengah meningkatnya jumlah mahasiswa nasional keberadaan 2000 perguruan tinggi swasta tersebut adalah suatu ironi. Menyedihkan.
Mereka umumnya adalah perguruan tinggi kecil yang bertugas mensarjanakan kelompok segmen tertentu yang umumnya juga marginal. Merekalah para sarjana dengan standar upah cukup rendah yang terjangkau oleh daya bayar UMKM. Merekalah yang bertugas memordernisir UMKM. Benar benar pahlawan yang tepat di era sekarang. Namun keberadaannya sering dianggap negatif oleh negara bukan dibina dengan misalnya dengan sentuhan teknologi tetapi dibiarkan mati. Alih alih ditangisi pemerintah punya pikiran membuka perguruan tinggi baru.
Kejadian di industri jasa pendidikan tentu tidak sendirian, pada industri properti hal yang sama juga terjadi. Ketua REI Surakarta mengatakan penjualan properti usaha menengah kecil sekarang hanya 20 persen dibanding sebelum Covid 19. Industri makanan jadi atau restoran yang sangat padat sudah mendahului.
Pemerintah seperti asyik dengan dirinya sendiri. Mungkin presiden menerima laporan keberhasilan institusi institusi negeri. Tujuan pembangunan negara katakanlah indikator yang paling buruk pertumbuhan ekonomi adalah tumbuhnya usaha usaha rakyat, bukan pertumbuhan badan badan milik negara.
Negara Bekerja dengan Data Makro Rakyat Bekerja dengan Data Mikro
Negara bekerja dengan data makro yaitu target pertumbuhan ekonomi dan pengangguran serta harga atau inflasi sedang rakyat bekerja dengan data mikro, persaingan, teknologi, efisiensi, dan laba rugi. Pemerintah memang harus mendengar masyarakatnya, jika tidak maka rakyat akan terdesak dan runtuh. Pemerintah mungkin tidak menyadari bahwa kehadirannya akan mendesak usaha rakyat.
LANGIT7.ID-Apakah Bapak Presiden tahu lebih dari 2000 pendidikan tinggi swasta dalam keadaan collapse? Pendidikan tinggi swasta adalah juga salah satu dari bidang bidang industri jasa. Dari 2000 unit usaha tersebut jika rata rata pegawai adalah 100 maka jumlahnya adalah 200.000 pekerja swasta. Di tengah meningkatnya jumlah mahasiswa nasional keberadaan 2000 perguruan tinggi swasta tersebut adalah suatu ironi. Menyedihkan.
Mereka umumnya adalah perguruan tinggi kecil yang bertugas mensarjanakan kelompok segmen tertentu yang umumnya juga marginal. Merekalah para sarjana dengan standar upah cukup rendah yang terjangkau oleh daya bayar UMKM. Merekalah yang bertugas memordernisir UMKM. Benar benar pahlawan yang tepat di era sekarang. Namun keberadaannya sering dianggap negatif oleh negara bukan dibina dengan misalnya dengan sentuhan teknologi tetapi dibiarkan mati. Alih alih ditangisi pemerintah punya pikiran membuka perguruan tinggi baru.
Kejadian di industri jasa pendidikan tentu tidak sendirian, pada industri properti hal yang sama juga terjadi. Ketua REI Surakarta mengatakan penjualan properti usaha menengah kecil sekarang hanya 20 persen dibanding sebelum Covid 19. Industri makanan jadi atau restoran yang sangat padat sudah mendahului.
Pemerintah seperti asyik dengan dirinya sendiri. Mungkin presiden menerima laporan keberhasilan institusi institusi negeri. Tujuan pembangunan negara katakanlah indikator yang paling buruk pertumbuhan ekonomi adalah tumbuhnya usaha usaha rakyat, bukan pertumbuhan badan badan milik negara.
Negara Bekerja dengan Data Makro Rakyat Bekerja dengan Data Mikro
Negara bekerja dengan data makro yaitu target pertumbuhan ekonomi dan pengangguran serta harga atau inflasi sedang rakyat bekerja dengan data mikro, persaingan, teknologi, efisiensi, dan laba rugi. Pemerintah memang harus mendengar masyarakatnya, jika tidak maka rakyat akan terdesak dan runtuh. Pemerintah mungkin tidak menyadari bahwa kehadirannya akan mendesak usaha rakyat.