Kelompok yang Dipimpin Saudi Beli Raksasa Game EA Senilai Rp858 Triliun, Internal Arab Gempar
Sururi al faruq
Rabu, 05 Agustus 2026 - 12:21 WIB
(Dok: Ilustrasi Langit7.id)
LANGIT7.ID-Riyadh; Penjualan raksasa industri gim Electronic Arts (EA) senilai 55 miliar dolar AS (sekitar Rp858 triliun) kepada sekelompok pembeli yang mencakup Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi telah resmi selesai.
Perusahaan asal Amerika ini dikenal memproduksi dan menerbitkan gim-gim terlaris seperti EA FC (yang dulu bernama Fifa), The Sims, dan Mass Effect.
Para investor, yang juga termasuk Affinity Partners—yang dipimpin oleh menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner—mengambil alih EA menjadi perusahaan swasta, yang berarti seluruh saham publiknya akan dibeli dan tidak lagi diperdagangkan di bursa saham.
Transaksi ini diperkirakan sebagai pembelian dengan utang (leveraged buyout) terbesar dalam sejarah, yang berarti sebagian besar pembayarannya menggunakan uang pinjaman, dan perusahaan harus melunasinya.
Hal ini karena selain 36 miliar dolar AS (sekitar Rp562 miliar) yang sudah disetor ke dalam kesepakatan, PIF perlu meminjam 20 miliar dolar AS (sekitar Rp312 miliar) dari bank investasi JPMorgan untuk menyelesaikan transaksi, dengan perusahaan yang menanggung utang tersebut.
Bagaimana pembayaran utang ini akan memengaruhi EA sebagai perusahaan telah menjadi bahan spekulasi dari para jurnalis dan analis.
Jason Schreier dari Bloomberg memperkirakan hal ini dapat menyebabkan "PHK massal, monetisasi yang lebih agresif, dan berbagai langkah penghematan biaya besar-besaran" bagi salah satu perusahaan terbesar di industri ini.
Perusahaan asal Amerika ini dikenal memproduksi dan menerbitkan gim-gim terlaris seperti EA FC (yang dulu bernama Fifa), The Sims, dan Mass Effect.
Para investor, yang juga termasuk Affinity Partners—yang dipimpin oleh menantu Presiden Donald Trump, Jared Kushner—mengambil alih EA menjadi perusahaan swasta, yang berarti seluruh saham publiknya akan dibeli dan tidak lagi diperdagangkan di bursa saham.
Transaksi ini diperkirakan sebagai pembelian dengan utang (leveraged buyout) terbesar dalam sejarah, yang berarti sebagian besar pembayarannya menggunakan uang pinjaman, dan perusahaan harus melunasinya.
Hal ini karena selain 36 miliar dolar AS (sekitar Rp562 miliar) yang sudah disetor ke dalam kesepakatan, PIF perlu meminjam 20 miliar dolar AS (sekitar Rp312 miliar) dari bank investasi JPMorgan untuk menyelesaikan transaksi, dengan perusahaan yang menanggung utang tersebut.
Bagaimana pembayaran utang ini akan memengaruhi EA sebagai perusahaan telah menjadi bahan spekulasi dari para jurnalis dan analis.
Jason Schreier dari Bloomberg memperkirakan hal ini dapat menyebabkan "PHK massal, monetisasi yang lebih agresif, dan berbagai langkah penghematan biaya besar-besaran" bagi salah satu perusahaan terbesar di industri ini.