home global news

Fadli Zon Dorong Humaniora Lebih Kritis dan Adaptif Hadapi Perubahan Zaman

Selasa, 11 Agustus 2026 - 20:19 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, hadir sebagai pembicara utama dalam Simposium Nasional Guru Besar Humaniora 2026 yang diselenggarakan Dewan Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), bertempat di Auditorium Toety Herati Rooseno, FIB UI, Depok.

Mengusung tema “Trajektori dan Urgensi Humaniora Masa Depan”, simposium yang berlangsung pada 11–13 Agustus 2026 tersebut mempertemukan para Guru Besar dari berbagai bidang ilmu humaniora dan perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas arah pengembangan humaniora yang relevan dengan tantangan zaman.

Dalam kesempatan tersebut, Menbud menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Simposium Nasional Guru Besar Humaniora yang menjadi momentum untuk merefleksikan posisi, arah, perkembangan, sekaligus masa depan ilmu-ilmu humaniora yang berkembang semakin cepat.

“Ilmu-ilmu humaniora yang berkembang menghadapi perubahan yang sangat eksponensial. Menurut saya, forum ini sangat strategis dalam menampung gagasan serta pemikiran, khususnya ilmu humaniora yang digagas para Guru Besar Humaniora dan selaras dengan visi misi Kementerian Kebudayaan dalam upaya pemajuan kebudayaan,” ujar dia dalam keterangannya, Selasa (11/8/2026).

Lebih lanjut, Menbud menyampaikan bahwa humaniora masa depan harus memiliki 5 karakter utama yaitu humaniora harus kritis; humaniora harus adaptif; humaniora harus interdisipliner; humaniora harus berakar pada kebudayaan; dan humaniora harus berorientasi pada kemanusiaan.

Sementara itu Dekan FIB UI dalam sambutan selamat datangnya menyampaikan bahwa tema simposium ini mengandung dua kata kunci penting bagi keberlangsungan humaniora yaitu trajektori dan urgensi humaniora masa depan. Trajketori ilmu humaniora menjadi peta perjalanan intelektual mengenai humaniora harus bertransformasi agar tetap relevan menghadapi dunia yang terus berubah.

“Humaniora masa depan harus mampu mengembangkan etika dan kecerdasan artifisial, mendukung pelestarian warisan budaya melalui teknologi yang diharapkan kedepannya dapat menghasilkan rekomendasi kebijakan publik yang berbasis nilai-nilai kemanusiaan, memperkuat kohesi sosial di tengah masyarakat yang semakin majemuk, serta menghadirkan solusi terhadap persoalan lingkungan melalui pendekatan budaya,” ujar Dekan FIB UI.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya