Fadli Zon Buka Pameran Foto Sejarah Indonesia-Korea di ANTARA Heritage Center
Tim langit 7
Kamis, 13 Agustus 2026 - 06:47 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, membuka pameran fotografi sejarah bertajuk “My Wish, Our Wish: Road to Freedom” di ANTARA Heritage Center, Pasar Baru, Jakarta. Pameran yang diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) bekerja sama dengan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA ini menjadi ruang untuk menelusuri kembali perjalanan sejarah, perjuangan, serta harapan menuju kebebasan melalui karya-karya fotografi.
Pameran tersebut digelar dalam rangka memperingati 150 tahun kelahiran Kim Koo, tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Korea, yang kiprahnya turut menjadi bagian dari warisan dokumenter yang diakui dalam program Memory of the World UNESCO. Melalui dokumentasi fotografi dan arsip sejarah, masyarakat diajak melihat kembali berbagai peristiwa yang merekam semangat perjuangan dan cita-cita kebebasan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang mempertemukan sejarah, fotografi, dan diplomasi kebudayaan. Menurut Menbud, pameran bersama ini menunjukkan pentingnya fotografi dan arsip. Tema yang diangkat pun relevan dalam suasana menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pameran ini menampilkan impian, perjuangan, dan semangat kemerdekaan tokoh Korea Selatan Kim Koo. Turut dipamerkan berbagai arsip dan dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
“Setiap bangsa tentu ingin bangsanya merdeka. Kim Koo seorang tokoh kemerdekaan dari Korea Selatan. Bagi kita, ada Bung Karno dan Bung Hatta, proklamator yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kami mendukung kegiatan yang menggunakan arsip sejarah, termasuk foto-foto dan dokumen, manuskrip, bagian dari upaya terus mengingat masa lalu sebagai bagian memahami hari ini. Jika tidak ada berita dan penyebaran informasi, tidak ada bukti proklamasi,” tutur Menbud Fadli Zon, dikutip Kamis (13/8/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Chung Hae-Kwan, menilai pemilihan Gedung ANTARA sebagai lokasi pameran memiliki makna istimewa. Menurutnya, gedung tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Korea.
“Kim Koo merupakan figur yang sangat simbolis dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Korea. Meskipun Indonesia dan Korea memiliki tradisi serta warisan budaya yang berbeda, kedua bangsa berbagi satu kesamaan warisan sejarah yang sangat penting, yakni pergerakan dan proklamasi kemerdekaan. Pemilihan lokasi pameran di Gedung ANTARA yang merupakan salah satu situs warisan sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan suatu hal yang sangat bermakna bagi Korea dan Indonesia untuk bersama-sama menelusuri dan mengangkat kembali perjalanan kedua negara dalam memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan. Selain itu, saya berharap pameran ini dapat menjadi kesempatan bagi generasi muda kita untuk belajar dan meneruskan semangat para pendahulu,” ungkap Chung Hae-Kwan.
Menanggapi hal ini, Menteri Kebudayaan mendorong Gedung ANTARA Heritage Culture menjadi cagar budaya nasional agar juga lebih mudah untuk menjamin pemeliharaan berkelanjutan, dan juga merupakan aset nasional yang tak terpisahkan dari perjuangan bangsa terutama dalam menyiarkan berita-berita proklamasi ketika itu.
Pameran tersebut digelar dalam rangka memperingati 150 tahun kelahiran Kim Koo, tokoh penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Korea, yang kiprahnya turut menjadi bagian dari warisan dokumenter yang diakui dalam program Memory of the World UNESCO. Melalui dokumentasi fotografi dan arsip sejarah, masyarakat diajak melihat kembali berbagai peristiwa yang merekam semangat perjuangan dan cita-cita kebebasan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi penyelenggaraan pameran yang mempertemukan sejarah, fotografi, dan diplomasi kebudayaan. Menurut Menbud, pameran bersama ini menunjukkan pentingnya fotografi dan arsip. Tema yang diangkat pun relevan dalam suasana menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Pameran ini menampilkan impian, perjuangan, dan semangat kemerdekaan tokoh Korea Selatan Kim Koo. Turut dipamerkan berbagai arsip dan dokumentasi Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
“Setiap bangsa tentu ingin bangsanya merdeka. Kim Koo seorang tokoh kemerdekaan dari Korea Selatan. Bagi kita, ada Bung Karno dan Bung Hatta, proklamator yang memproklamasikan kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Kami mendukung kegiatan yang menggunakan arsip sejarah, termasuk foto-foto dan dokumen, manuskrip, bagian dari upaya terus mengingat masa lalu sebagai bagian memahami hari ini. Jika tidak ada berita dan penyebaran informasi, tidak ada bukti proklamasi,” tutur Menbud Fadli Zon, dikutip Kamis (13/8/2026).
Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia, Chung Hae-Kwan, menilai pemilihan Gedung ANTARA sebagai lokasi pameran memiliki makna istimewa. Menurutnya, gedung tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah perjuangan dan kemerdekaan Indonesia, tetapi juga menjadi ruang yang mempertemukan perjalanan sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dan Korea.
“Kim Koo merupakan figur yang sangat simbolis dalam sejarah pergerakan kemerdekaan Korea. Meskipun Indonesia dan Korea memiliki tradisi serta warisan budaya yang berbeda, kedua bangsa berbagi satu kesamaan warisan sejarah yang sangat penting, yakni pergerakan dan proklamasi kemerdekaan. Pemilihan lokasi pameran di Gedung ANTARA yang merupakan salah satu situs warisan sejarah proklamasi kemerdekaan Indonesia merupakan suatu hal yang sangat bermakna bagi Korea dan Indonesia untuk bersama-sama menelusuri dan mengangkat kembali perjalanan kedua negara dalam memperjuangkan kebebasan dan kemerdekaan. Selain itu, saya berharap pameran ini dapat menjadi kesempatan bagi generasi muda kita untuk belajar dan meneruskan semangat para pendahulu,” ungkap Chung Hae-Kwan.
Menanggapi hal ini, Menteri Kebudayaan mendorong Gedung ANTARA Heritage Culture menjadi cagar budaya nasional agar juga lebih mudah untuk menjamin pemeliharaan berkelanjutan, dan juga merupakan aset nasional yang tak terpisahkan dari perjuangan bangsa terutama dalam menyiarkan berita-berita proklamasi ketika itu.