Atasi Kendala Akses Gempa NTT, BNPB Siagakan Armada Udara untuk Distribusi Bantuan
Ahmad zuhdi
Ahad, 16 Agustus 2026 - 18:00 WIB
Atasi Kendala Akses Gempa NTT, BNPB Siagakan Armada Udara untuk Distribusi Bantuan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan pembaruan (update) terkait penanganan darurat pasca-gempa bumi yang mengguncang kawasan lepas pantai timur Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada hari kedua pasca-bencana, pemerintah pusat bersama pemerintah daerah dan berbagai elemen masyarakat terus bergerak cepat untuk mengoptimalkan penanganan di lapangan.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa jajaran menteri dan pimpinan lembaga terkait telah berkoordinasi langsung di lokasi bencana sejak Ahad (16/8/2026) pagi. Tim pemerintah pusat dibagi ke beberapa titik terdampak utama, seperti Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Nagekeo, dan Sikka untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak warga serta merespons kendala penanganan secara langsung.
"Terkait data korban jiwa, kami mencatat hingga Minggu sore total korban meninggal dunia mencapai 53 jiwa. Rinciannya meliputi Kabupaten Manggarai sebanyak 25 jiwa, Manggarai Timur 20 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa. Sementara itu, tidak ada laporan mengenai korban hilang (Daftar Pencarian Orang) yang masuk ke Basarnas, meskipun personel tetap disiagakan secara penuh di tujuh kabupaten/kota terdampak," ujar Muhari dikutip Youtube BNPB.
Selain korban jiwa, BNPB mencatat sebanyak 135 warga mengalami luka-luka dan saat ini sedang menjalani perawatan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Korban luka-luka tersebut tersebar di Manggarai Timur (21 luka berat, 59 luka ringan), Manggarai (17 luka berat, 20 luka ringan), Sikka (12 jiwa), serta Manggarai Barat (6 luka berat).
Baca Juga:Update Korban Gempa M7 NTT: 51 Tewas, 64 Luka Berat
Meskipun fokus utama fase tanggap darurat adalah pencarian, pertolongan, dan pemenuhan kebutuhan dasar, pendataan awal kerusakan infrastruktur juga mulai berjalan. "Data sementara mencatat kerusakan pemukiman warga mencakup 1.754 unit rumah rusak berat, 49 unit rumah rusak sedang, dan 38 unit rumah rusak ringan. Pendataan ini terus divalidasi guna mempercepat proses transisi menuju pemulihan dan rekonstruksi pasca-bencana," paparnya.
Untuk menangani pengungsi, pemerintah memperhitungkan kondisi fisik bangunan serta faktor psikologis masyarakat yang masih mengalami trauma aftershock maupun ingatan atas peristiwa tsunami tahun 1992. Hingga Minggu sore pukul 15.02 WITA, tercatat sebanyak 995 kali gempa susulan, dengan 46 kali di antaranya dirasakan oleh warga. Abdul Muhari mengimbau masyarakat untuk memeriksa struktur bangunan rumah masing-masing dan segera melaporkan kerusakan ke pihak RT/RW atau BPBD setempat.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB, Abdul Muhari, menyatakan bahwa jajaran menteri dan pimpinan lembaga terkait telah berkoordinasi langsung di lokasi bencana sejak Ahad (16/8/2026) pagi. Tim pemerintah pusat dibagi ke beberapa titik terdampak utama, seperti Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Nagekeo, dan Sikka untuk mengidentifikasi kebutuhan mendesak warga serta merespons kendala penanganan secara langsung.
"Terkait data korban jiwa, kami mencatat hingga Minggu sore total korban meninggal dunia mencapai 53 jiwa. Rinciannya meliputi Kabupaten Manggarai sebanyak 25 jiwa, Manggarai Timur 20 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa, Manggarai Barat 1 jiwa, dan Nagekeo 1 jiwa. Sementara itu, tidak ada laporan mengenai korban hilang (Daftar Pencarian Orang) yang masuk ke Basarnas, meskipun personel tetap disiagakan secara penuh di tujuh kabupaten/kota terdampak," ujar Muhari dikutip Youtube BNPB.
Selain korban jiwa, BNPB mencatat sebanyak 135 warga mengalami luka-luka dan saat ini sedang menjalani perawatan medis di fasilitas kesehatan terdekat. Korban luka-luka tersebut tersebar di Manggarai Timur (21 luka berat, 59 luka ringan), Manggarai (17 luka berat, 20 luka ringan), Sikka (12 jiwa), serta Manggarai Barat (6 luka berat).
Baca Juga:Update Korban Gempa M7 NTT: 51 Tewas, 64 Luka Berat
Meskipun fokus utama fase tanggap darurat adalah pencarian, pertolongan, dan pemenuhan kebutuhan dasar, pendataan awal kerusakan infrastruktur juga mulai berjalan. "Data sementara mencatat kerusakan pemukiman warga mencakup 1.754 unit rumah rusak berat, 49 unit rumah rusak sedang, dan 38 unit rumah rusak ringan. Pendataan ini terus divalidasi guna mempercepat proses transisi menuju pemulihan dan rekonstruksi pasca-bencana," paparnya.
Untuk menangani pengungsi, pemerintah memperhitungkan kondisi fisik bangunan serta faktor psikologis masyarakat yang masih mengalami trauma aftershock maupun ingatan atas peristiwa tsunami tahun 1992. Hingga Minggu sore pukul 15.02 WITA, tercatat sebanyak 995 kali gempa susulan, dengan 46 kali di antaranya dirasakan oleh warga. Abdul Muhari mengimbau masyarakat untuk memeriksa struktur bangunan rumah masing-masing dan segera melaporkan kerusakan ke pihak RT/RW atau BPBD setempat.