Pidato Presiden dan Prasayrat Negara Maju
Tim langit 7
Senin, 17 Agustus 2026 - 11:48 WIB
(Dok: Istimewa)
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Pidato presiden dihadapan sidang umum MPR terkait HUT RI 2026, meliputi delapan pokok ketahanan pangan, ketahanan energi, generasi unggul (MBG), pendidikan bermutu, kesehatan berkualitas, adil, dan merata, perekonomian rakyat, pertahanan semesta, mempercepat investasi dan perdagangan global.
Delapan program utama tersebut terasa masih berkutat pada basic need, kebutuhan dasar dan belum memberi bayangan akan lahirnya negara maju.
Apakah negara maju itu? Yaitu suatu negara dimana mayoritas rakyat bekerja pada sektor yang produktif yang memberi upah relatif tinggi, sehingga mayoritas rakyat akan mandiri, bisa membeli pangan yang sehat, sandang, mengangsur rumah, membiayai transportasi, membiayai pendidikan dan asuransi kesehatan dasar - BPJS. Atau dengan kata lain hanya tinggal minoritas rakyat dalam keadaan normal non bencana memerlukan bantuan negara. Tentu saja kebutuhan non ekonomi tidak kalah penting dan karena keduanya berkait berkelindan yaitu kebutuhan keagamaan yang merupakan keunggulan bangsa berkait resiliensi pada kehidupan modern yang dinamis, kebebasan pada hak dasar dan politik, serta kebebasan ekonomi dan berusaha.
Kata kunci negara maju yaitu lahirnya lapangan kerja yang massif untuk setidaknya 100 sampai 120 juta tempat kerja yang bisa memberi upah yang relatif tinggi karena lapangan kerja tersebut berproduktifitas dan juga berteknologi tinggi. Hal ini yang kelihatannya tidak terjangkau oleh program pemerintah yang ada sekarang karena masih berkutat pada kebutuhan dasar. MBG, energi, dan pendidikan berkualitas termasuk sekolah garuda memang merupakan prasyarat untuk menjalankan perusahaan berproduktifas tinggi, tetapi hal itu baru setengah cerita yaitu suplai side – siapakah yang akan menggunakan, industri apa yang akan tumbuh menjadi industri modern berproduktivitas tinggi tersebut? Sebenarnya 5 persen setiap tahun dari SDM kita memiliki nilai matematika 90 sampai 100, artinya sekitar 15 juta rakyat kita atau tiga kali seluruh penduduk Singapura memiliki kualitas yang tinggi yang mampu menjadi motor penggunaan teknologi tinggi. Kata kuncinya adalah lahirnya perusahan perusahan swasta berteknologi dan beroprduktivitas tinggi sebagai tempat bagi 120 juta tenaga kerja kita.
Persoalan dasar struktur ekonomi berbasis sumber alam dan melahirkan elit ekonomi - oligarki belum berubah yang memungkinkan lahirnya industri menengah yang handal dan berupah tinggi sehingga akan melahirkan suatu masyarakat mandiri. Perusahaan menengah yang masif. MBG semestinya dipangkas untuk anak anak yang kekurangan gizi, sekitar 30 sampai 40 persen saja, dan mendorong lahirnya sekolah sekolah non MBG sebagai sekolah mandiri dan unggul, dengan demikian akan tersisa 200 triliun setiap tahun yang dapat digunakan untuk investasi membangun infra struktur teknologi tinggi yang akan disebarkan kepada seluruh industri masyarakat. Swasta menengah yang kuat berteknologi tinggi dan memberikan upah tinggi.
Jalan re industrialisasi menuju negara modern perlu dipikirkan kembali dan mulai lepas dari kebutuhan dasar. Sekali lagi kemajuan adalah selalu berbasis swasta akan tetapi karena swasta yang ada terlalu nyaman dengan sumber daya alam walaupun dengan hilirasai membentuk barang setengah jadi, tugas negara sedang berkembang adalah mendorong lahirnya perusahaan menengah yang masif dan berteknologi tersebut. Pemerintah perlu masuk kepada infra struktur teknologi tinggi yaitu riset riset terapan berbasis industri riel. Riset riset berbasis universitas masih bertujuan administratif. Dan tentu saja terbatas pada anggaran. Diperlukan suatau mekanisme yang rasional suatu riset pengembangan untuk keperluan industri yang dapat diakses oleh industri yang benar benar memajukan dan kebutuhan industri. Namun hal ini harus riel, karena sering gagasan yang disponsori negara berakhir menjadi proyek proyek kroni, kasus korupsi MBG terlihat jelas pola semacam itu.
LANGIT7.ID-Pidato presiden dihadapan sidang umum MPR terkait HUT RI 2026, meliputi delapan pokok ketahanan pangan, ketahanan energi, generasi unggul (MBG), pendidikan bermutu, kesehatan berkualitas, adil, dan merata, perekonomian rakyat, pertahanan semesta, mempercepat investasi dan perdagangan global.
Delapan program utama tersebut terasa masih berkutat pada basic need, kebutuhan dasar dan belum memberi bayangan akan lahirnya negara maju.
Apakah negara maju itu? Yaitu suatu negara dimana mayoritas rakyat bekerja pada sektor yang produktif yang memberi upah relatif tinggi, sehingga mayoritas rakyat akan mandiri, bisa membeli pangan yang sehat, sandang, mengangsur rumah, membiayai transportasi, membiayai pendidikan dan asuransi kesehatan dasar - BPJS. Atau dengan kata lain hanya tinggal minoritas rakyat dalam keadaan normal non bencana memerlukan bantuan negara. Tentu saja kebutuhan non ekonomi tidak kalah penting dan karena keduanya berkait berkelindan yaitu kebutuhan keagamaan yang merupakan keunggulan bangsa berkait resiliensi pada kehidupan modern yang dinamis, kebebasan pada hak dasar dan politik, serta kebebasan ekonomi dan berusaha.
Kata kunci negara maju yaitu lahirnya lapangan kerja yang massif untuk setidaknya 100 sampai 120 juta tempat kerja yang bisa memberi upah yang relatif tinggi karena lapangan kerja tersebut berproduktifitas dan juga berteknologi tinggi. Hal ini yang kelihatannya tidak terjangkau oleh program pemerintah yang ada sekarang karena masih berkutat pada kebutuhan dasar. MBG, energi, dan pendidikan berkualitas termasuk sekolah garuda memang merupakan prasyarat untuk menjalankan perusahaan berproduktifas tinggi, tetapi hal itu baru setengah cerita yaitu suplai side – siapakah yang akan menggunakan, industri apa yang akan tumbuh menjadi industri modern berproduktivitas tinggi tersebut? Sebenarnya 5 persen setiap tahun dari SDM kita memiliki nilai matematika 90 sampai 100, artinya sekitar 15 juta rakyat kita atau tiga kali seluruh penduduk Singapura memiliki kualitas yang tinggi yang mampu menjadi motor penggunaan teknologi tinggi. Kata kuncinya adalah lahirnya perusahan perusahan swasta berteknologi dan beroprduktivitas tinggi sebagai tempat bagi 120 juta tenaga kerja kita.
Persoalan dasar struktur ekonomi berbasis sumber alam dan melahirkan elit ekonomi - oligarki belum berubah yang memungkinkan lahirnya industri menengah yang handal dan berupah tinggi sehingga akan melahirkan suatu masyarakat mandiri. Perusahaan menengah yang masif. MBG semestinya dipangkas untuk anak anak yang kekurangan gizi, sekitar 30 sampai 40 persen saja, dan mendorong lahirnya sekolah sekolah non MBG sebagai sekolah mandiri dan unggul, dengan demikian akan tersisa 200 triliun setiap tahun yang dapat digunakan untuk investasi membangun infra struktur teknologi tinggi yang akan disebarkan kepada seluruh industri masyarakat. Swasta menengah yang kuat berteknologi tinggi dan memberikan upah tinggi.
Jalan re industrialisasi menuju negara modern perlu dipikirkan kembali dan mulai lepas dari kebutuhan dasar. Sekali lagi kemajuan adalah selalu berbasis swasta akan tetapi karena swasta yang ada terlalu nyaman dengan sumber daya alam walaupun dengan hilirasai membentuk barang setengah jadi, tugas negara sedang berkembang adalah mendorong lahirnya perusahaan menengah yang masif dan berteknologi tersebut. Pemerintah perlu masuk kepada infra struktur teknologi tinggi yaitu riset riset terapan berbasis industri riel. Riset riset berbasis universitas masih bertujuan administratif. Dan tentu saja terbatas pada anggaran. Diperlukan suatau mekanisme yang rasional suatu riset pengembangan untuk keperluan industri yang dapat diakses oleh industri yang benar benar memajukan dan kebutuhan industri. Namun hal ini harus riel, karena sering gagasan yang disponsori negara berakhir menjadi proyek proyek kroni, kasus korupsi MBG terlihat jelas pola semacam itu.