home global news

Fadli Zon Dorong Indonesia-Malaysia Perkuat Kerja Sama Diplomasi Budaya

Jum'at, 21 Agustus 2026 - 14:50 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Direktorat Promosi Kebudayaan, Direktorat Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan menyelenggarakan acara Welcoming Dinner bagi para delegasi Majelis Cendekiawan Madani Malaysia – Indonesia (Madani Malindo) ke-2. Bertempat di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, agenda ini menjadi sebuah momen penting dalam mempererat hubungan promosi dan diplomasi budaya antara dua negara serumpun, Indonesia dan Malaysia.

Dalam pertemuan ini, ditekankan kembali bahwa Indonesia dan Malaysia bukanlah dua entitas budaya yang berdiri terpisah. Secara historis dan geopolitik, kedua negara tumbuh dari rahim kebudayaan yang sama, yakni Rumpun Melayu. Lautan yang terbentang di antara kedua negara sejak ribuan tahun lalu tidak pernah menjadi penghalang, melainkan jalan yang menghubungkan interaksi sosial, bahasa, perdagangan, dan tradisi Nusantara.

Majelis Cendekiawan Madani Malindo merupakan inisiatif strategis hasil kolaborasi antara Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) dan Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM). Madani Malindo pertama diadakan pada 2025 di Kuala Lumpur Malaysia, dan Madani Malindo ke-2 sekarang berlangsung di Jakarta, dengan mengusung tema "Negara Madani dalam Konfigurasi Kemajemukan Budaya", majelis ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai dari 20 hingga 23 Agustus 2026. Forum strategis ini dirancang sebagai ruang dialog inklusif guna mengkaji wawasan Madani dari perspektif teologis, filosofis, historis, hingga implementasinya di era negara modern.

Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa Indonesia dan Malaysia tentu memiliki persamaan budaya, persinggungan di masa lalu dan di masa kini, titik-titik perjumpaan dan lain-lain. Indonesia sejak adanya Kementerian Kebudayaan berusaha mempercepat upaya pemajuan kebudayaan. “Ada amanat dalam konstitusi sebetulnya yang selalu saya kutip, Pasal 32 Ayat 1 Undang-Undang Dasar 1945 yang bunyinya adalah: Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai kebudayaannya. Jadi memajukan kebudayaan nasional tapi memberikan jaminan kebebasan bagi masyarakat yang berbeda-beda suku, agama, dan lain-lain itu untuk memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budaya masing-masing. Jadi ruang untuk berkembang bagi ekspresi budaya itu dijamin oleh konstitusi.” ungkap Menbud Fadli, Jumat (21/8/2026).

Lebih dari sekadar jamuan ramah tamah, Welcoming Dinner ini menjadi sarana praktik baik bagi Kementerian Kebudayaan dalam menjalankan instrumen penguatan diplomasi budaya. Selama acara berlangsung, para delegasi disuguhkan dengan berbagai kekayaan warisan budaya Indonesia, seperti pertunjukan tari tradisional, kuliner khas Nusantara, pantun, musik, hingga wastra. Kehadiran elemen-elemen kebudayaan ini turut dinarasikan kepada seluruh hadirin guna menyebarluaskan nilai-nilai luhur budaya Indonesia yang sangat relevan dan memiliki kedekatan dengan kebudayaan di Malaysia.

Turut hadir dalam acara ini antara lain Ketua Pengurus Pusat Muhamadiyah, Haedar Nashir; Ketua Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC), Din Syamsuddin; Ketua Pengarah IKIM (Institut Kefahaman Islam Malaysia), Dato' Mohamed Azam bin Mohamed Adil, beserta 59 cendekiawan dan tokoh delegasi dari Indonesia, serta 40 orang delegasi dari Malaysia. Sementara itu dari jajaran Kementerian Kebudayaan hadir, antara lain Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Diplomasi Budaya. dan Hubungan Internasional, Annisa Rengganis; serta Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin.

Melalui kegiatan ini, para pemikir, akademisi, ulama, dan pakar lintas disiplin dari Malaysia dan Indonesia diharapkan dapat memperkuat jalinan kerja sama yang inovatif dan solutif. Diskusi dan dialog ini ditujukan untuk menciptakan pemahaman bersama (mutual understanding), merayakan keberagaman, dan memajukan peradaban yang mampu memberikan inspirasi dan kemaslahatan di tingkat regional maupun internasional.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya