home masjid

Mengapa Keimanan Harus Dibuktikan dengan Amal Saleh?

Ahad, 23 Agustus 2026 - 07:10 WIB
Mengapa Keimanan Harus Dibuktikan dengan Amal Saleh?
Al-Qur'an secara konsisten mengusung metode penyampaian yang seimbang antara targhīb (dorongan dan kabar gembira) serta tarhīb (peringatan keras). Metode ini tefleksikan secara jelas setelah pemaparan ancaman neraka bagi orang-orang kafir, yang langsung disusul dengan janji keindahan surga bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.

وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍۢ تَجْرِى مِن تَحْتِهَا ٱلْأَنْهَٰرُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا۟ مِنْهَا مِن ثَمَرَةٍۢ رِّزْقًۭا ۙ قَالُوا۟ هَٰذَا ٱلَّذِى رُزِقْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَأُتُوا۟ بِهِۦ مُتَشَٰبِهًۭا ۖ وَلَهُمْ فِيهَآ أَزْوَٰجٌۭ مُّطَهَّرَةٌۭ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu". Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 25).

Al-Biqāʿī dan Ibnu Katsīr menegaskan bahwa penyandingan dua hal yang berlawanan (matsānī) ini bertujuan agar manusia senantiasa berada dalam keseimbangan antara rasa takut akan siksa dan harapan akan rahmat Allah.

Perintah untuk menyampaikan kabar gembira diawali dengan kalimat "Wa basy-syirilladzīna āmanū wa ʿamiluṣ-ṣāliḥāt". Imam Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa kata basy-syir bermakna memberikan kabar gembira yang mewujud pada ekspresi wajah yang berseri-seri. Kabar gembira ini ditujukan khusus kepada orang-orang yang tidak hanya membenarkan risalah dengan lisan dan hati, melainkan juga membuktikannya melalui amal saleh.

Mengenai hakikat amal saleh, Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu menekankan pentingnya keikhlasan yang bersih dari riya, sedangkan Mu'adz radhiyallahu 'anhu memetakan empat pilar amal saleh, yaitu ilmu, niat, kesabaran, dan keikhlasan. Syekh Al-Saʿdī menambahkan bahwa amal dinamakan ṣāliḥāt karena sanggup memperbaiki kondisi kehidupan hamba di dunia maupun di akhirat.

Balasan pertama yang dijanjikan adalah tempat tinggal yang penuh kedamaian melalui frasa "Anna lahum jannātin tajrī min taḥtihal-anhār".
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya