Tafsir Al-Baqarah 39: Balasan Kufur dan Kekekalan Penghuni Neraka
Ahmad zuhdi
Rabu, 09 September 2026 - 06:48 WIB
Tafsir Al-Baqarah 39: Balasan Kufur dan Kekekalan Penghuni Neraka
Surat Al-Baqarah ayat 39 menjadi penutup rangkaian kisah besar penciptaan Nabi Adam ʿalayhi as-salām, perintah bersujud kepada para malaikat, pembangkangan Iblis, hingga peringatan Allah ﷻ mengenai diturunkannya manusia ke bumi. Kedudukan ayat ini merupakan qasīm atau pasangan tandingan langsung dari ayat 38.
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 39).
Jika ayat sebelumnya menyampaikan kabar gembira berupa jaminan keamanan dan terhapusnya kesedihan bagi siapa pun yang mengikut petunjuk Allah ﷻ, maka ayat 39 menegaskan ancaman keras bagi mereka yang memilih kufur dan mendustakan ayat-ayat-Nya.
Secara struktur bahasa, Al-Ālūsī dalam kitab Rūḥ al-Maʿānī menjelaskan bahwa posisi frasa ayat ini dihubungkan secara ʿaṭaf (kata sambung) dengan firman-Nya "faman tabiʿa" (maka barang siapa yang mengikuti).
Penafsiran ini seolah-olah menegaskan dua pilihan yang berlawanan: barang siapa yang mau mengikuti petunjuk-Nya akan selamat, dan barang siapa yang tidak mengikutinya akan binasa. Ayat ini menjadi fondasi akidah yang sangat penting mengenai keadilan Allah ﷻ serta ketetapan kekekalan azab neraka bagi orang-orang kafir.
Penggalan awal ayat ini merujuk pada sikap penolakan terhadap kebenaran melalui kalimat wa-alladzina kafarū. Al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menerangkan bahwa secara etimologis, kata kufur bermakna menutupi sesuatu. Dalam konteks ayat, kufur diartikan sebagai tindakan mengingkari hujah-hujah tauhid, mendustakan para rasul, serta menutup diri dari bukti-bukti keesaan Allah ﷻ.
وَٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ وَكَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَآ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ
Adapun orang-orang yang kafir dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al-Baqarah: 39).
Jika ayat sebelumnya menyampaikan kabar gembira berupa jaminan keamanan dan terhapusnya kesedihan bagi siapa pun yang mengikut petunjuk Allah ﷻ, maka ayat 39 menegaskan ancaman keras bagi mereka yang memilih kufur dan mendustakan ayat-ayat-Nya.
Secara struktur bahasa, Al-Ālūsī dalam kitab Rūḥ al-Maʿānī menjelaskan bahwa posisi frasa ayat ini dihubungkan secara ʿaṭaf (kata sambung) dengan firman-Nya "faman tabiʿa" (maka barang siapa yang mengikuti).
Penafsiran ini seolah-olah menegaskan dua pilihan yang berlawanan: barang siapa yang mau mengikuti petunjuk-Nya akan selamat, dan barang siapa yang tidak mengikutinya akan binasa. Ayat ini menjadi fondasi akidah yang sangat penting mengenai keadilan Allah ﷻ serta ketetapan kekekalan azab neraka bagi orang-orang kafir.
Penggalan awal ayat ini merujuk pada sikap penolakan terhadap kebenaran melalui kalimat wa-alladzina kafarū. Al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menerangkan bahwa secara etimologis, kata kufur bermakna menutupi sesuatu. Dalam konteks ayat, kufur diartikan sebagai tindakan mengingkari hujah-hujah tauhid, mendustakan para rasul, serta menutup diri dari bukti-bukti keesaan Allah ﷻ.