home community

Dorong Mualaf Mandiri, LP2M MUI Targetkan dari Mustahik Jadi Muzaki

Senin, 21 September 2026 - 15:20 WIB
Dorong Mualaf Mandiri, LP2M MUI Targetkan dari Mustahik Jadi Muzaki

Permasalahan bisnis yang terhenti, keterbatasan penguasaan pemasaran digital, hingga kebingungan mengurus sertifikasi halal menjadi deretan persoalan utama yang dibawa para peserta dalam ajang Bootcamp Mualaf Muharrik 2026. Melalui program pembekalan intensif serta fasilitas Klinik Usaha Mualaf, seluruh peserta tidak hanya memperoleh penguatan mental dan keimanan, melainkan juga mendapatkan pendampingan nyata demi mewujudkan kemandirian ekonomi.

Diinisiasi oleh Lembaga Pembinaan dan Pemberdayaan Mualaf (LP2M) Majelis Ulama Indonesia (MUI), agenda Bootcamp Mualaf Muharrik 2026 ini mengusung tema "Dari Mualaf Menjadi Muharrik, Tumbuh Dalam Islam, Berdaya untuk Kemaslahatan". Rangkaian kegiatan diawali secara resmi di Aula MUI Pusat, Jakarta, pada Jumat (18/9/2026), lalu dilanjutkan dengan sesi pembekalan luar ruang di Villa Bukit Pinus, Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, hingga Ahad (20/9/2026).

Wakil Ketua Panitia Bootcamp Mualaf Muharrik 2026, KH Firman Arifandi, menjelaskan bahwa seluruh materi acara telah dirancang secara khusus untuk menjawab tantangan mualaf dari hulu ke hilir, mulai dari aspek spiritual hingga pengembangan bisnis. "Kita memfokuskan kegiatan ini pada pelatihan yang komprehensif, mulai dari persoalan mental, spiritual, hingga kemandirian ekonomi para mualaf," tegas Kiai Firman saat memberikan keterangan di Bogor, Ahad (20/9/2026).

Agenda pada hari pertama difokuskan pada penguatan fondasi mental dan spiritual yang disampaikan langsung oleh jajaran kiai, tokoh agama, serta jajaran pimpinan pengurus MUI Pusat. Langkah penguatan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa percaya diri peserta, sekaligus mempersiapkan mereka agar mampu menjadi sosok muharrik atau penggerak yang membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Memasuki hari kedua, fokus kegiatan bergeser pada pembedahan berbagai kendala operasional yang kerap dijumpai para mualaf dalam menjalankan roda usahanya sehari-hari. Sesi ini membekali peserta dengan pengetahuan manajemen bisnis, strategi pemasaran, pemantapan identitas merek, teknik pemasaran digital, hingga panduan praktis pengurusan sertifikat halal.

Baca Juga:BAZNAS dan DDII Perkuat Sinergi Tingkatkan Kapasitas Dai untuk Dakwah di Wilayah 3T

Kiai Firman mengamati bahwa latar belakang tantangan yang dihadapi oleh masing-masing peserta sangat beragam dan membutuhkan penanganan yang spesifik. "Ada yang bisnisnya mandek, ada yang mentok. Ada juga yang sebelumnya berkonsentrasi di retail, tetapi terhalang oleh kemampuan dalam digital marketing dan lain sebagainya," ungkap Kiai Firman merinci situasi peserta.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya