Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 79: Ancaman Keras Pemalsu Kitab Suci
Ahmad zuhdi
Jum'at, 30 Oktober 2026 - 14:07 WIB
Tafsir Surat al-Baqarah Ayat 79: Ancaman Keras Pemalsu Kitab Suci
Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian kecaman Allah ﷻ terhadap Bani Israil dalam Surat al-Baqarah, khususnya setelah Allah menyebutkan sikap mereka yang mengingkari kitab dan memperjualbelikan ayat-ayat-Nya. Ayat ke-79 ini menempati posisi penting karena menyingkap praktik pemalsuan kitab suci yang dilakukan oleh para pendeta Yahudi.
فَوَيْلٌۭ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ ٱلْكِتَٰبَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشْتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا ۖ فَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Baqarah: 79).
Mereka menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu menisbatkannya kepada Allah ﷻ demi meraih keuntungan duniawi semata. Al-Baghawī menjelaskan konteks historisnya bahwa tindakan tersebut didorong oleh ketakutan para pendeta Yahudi akan hilangnya sumber penghidupan serta kepemimpinan mereka ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, sehingga mereka berupaya keras menghalangi umatnya dari keimanan.
Ayat ini juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan ayat sebelumnya yang membahas golongan ummi dari kalangan Yahudi yang hanya mengikuti angan-angan kosong. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ketika Al-Qur'an menetapkan dosa bagi golongan pertama yang berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu, maka celaan dan ancaman dosa yang jauh lebih berat tentu ditujukan kepada golongan yang lebih buruk, yaitu mereka yang sengaja memalsukan kebenaran dan menyesatkan hamba-hamba Allah.
Oleh karena itu, Allah membuka ayat ini dengan kecaman keras berupa kata "fawail" (maka kecelakaanlah). Terkait makna kata tersebut, para mufassir menyampaikan berbagai tafsir, mulai dari azab yang pasti, cairan nanah di dasar Jahannam, hingga nama sebuah lembah yang sangat dalam di neraka, yang secara keseluruhan menggambarkan puncak dari kebinasaan dan kehancuran.
Mengenai frasa "mereka menulis kitab dengan tangan mereka sendiri", Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menyasar golongan dari kalangan Yahudi yang menjadi penyeru kesesatan dengan kedustaan atas nama Allah serta memakan harta manusia secara batil. Al-Biqāʿī menambahkan bahwa penggunaan kata sambung tertentu dalam redaksi ayat ini mengisyaratkan betapa buruk dan tercelanya kedustaan tersebut serta jauhnya derajat mereka dari nilai-nilai kebaikan.
فَوَيْلٌۭ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ ٱلْكِتَٰبَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشْتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا ۖ فَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Baqarah: 79).
Mereka menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu menisbatkannya kepada Allah ﷻ demi meraih keuntungan duniawi semata. Al-Baghawī menjelaskan konteks historisnya bahwa tindakan tersebut didorong oleh ketakutan para pendeta Yahudi akan hilangnya sumber penghidupan serta kepemimpinan mereka ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, sehingga mereka berupaya keras menghalangi umatnya dari keimanan.
Ayat ini juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan ayat sebelumnya yang membahas golongan ummi dari kalangan Yahudi yang hanya mengikuti angan-angan kosong. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ketika Al-Qur'an menetapkan dosa bagi golongan pertama yang berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu, maka celaan dan ancaman dosa yang jauh lebih berat tentu ditujukan kepada golongan yang lebih buruk, yaitu mereka yang sengaja memalsukan kebenaran dan menyesatkan hamba-hamba Allah.
Oleh karena itu, Allah membuka ayat ini dengan kecaman keras berupa kata "fawail" (maka kecelakaanlah). Terkait makna kata tersebut, para mufassir menyampaikan berbagai tafsir, mulai dari azab yang pasti, cairan nanah di dasar Jahannam, hingga nama sebuah lembah yang sangat dalam di neraka, yang secara keseluruhan menggambarkan puncak dari kebinasaan dan kehancuran.
Mengenai frasa "mereka menulis kitab dengan tangan mereka sendiri", Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menyasar golongan dari kalangan Yahudi yang menjadi penyeru kesesatan dengan kedustaan atas nama Allah serta memakan harta manusia secara batil. Al-Biqāʿī menambahkan bahwa penggunaan kata sambung tertentu dalam redaksi ayat ini mengisyaratkan betapa buruk dan tercelanya kedustaan tersebut serta jauhnya derajat mereka dari nilai-nilai kebaikan.