LANGIT7.ID, Jakarta; - Ayat ini merupakan bagian dari rangkaian kecaman Allah ﷻ terhadap Bani Israil dalam Surat al-Baqarah, khususnya setelah Allah menyebutkan sikap mereka yang mengingkari kitab dan memperjualbelikan ayat-ayat-Nya. Ayat ke-79 ini menempati posisi penting karena menyingkap praktik pemalsuan kitab suci yang dilakukan oleh para pendeta Yahudi.
فَوَيْلٌۭ لِّلَّذِينَ يَكْتُبُونَ ٱلْكِتَٰبَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَٰذَا مِنْ عِندِ ٱللَّهِ لِيَشْتَرُوا۟ بِهِۦ ثَمَنًۭا قَلِيلًۭا ۖ فَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌۭ لَّهُم مِّمَّا يَكْسِبُونَ
Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (QS Al-Baqarah: 79).Mereka menulis kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu menisbatkannya kepada Allah ﷻ demi meraih keuntungan duniawi semata. Al-Baghawī menjelaskan konteks historisnya bahwa tindakan tersebut didorong oleh ketakutan para pendeta Yahudi akan hilangnya sumber penghidupan serta kepemimpinan mereka ketika Nabi Muhammad ﷺ tiba di Madinah, sehingga mereka berupaya keras menghalangi umatnya dari keimanan.
Ayat ini juga memiliki kaitan yang sangat erat dengan ayat sebelumnya yang membahas golongan ummi dari kalangan Yahudi yang hanya mengikuti angan-angan kosong. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ketika Al-Qur'an menetapkan dosa bagi golongan pertama yang berbicara tentang Allah tanpa dasar ilmu, maka celaan dan ancaman dosa yang jauh lebih berat tentu ditujukan kepada golongan yang lebih buruk, yaitu mereka yang sengaja memalsukan kebenaran dan menyesatkan hamba-hamba Allah.
Oleh karena itu, Allah membuka ayat ini dengan kecaman keras berupa kata "fawail" (maka kecelakaanlah). Terkait makna kata tersebut, para mufassir menyampaikan berbagai tafsir, mulai dari azab yang pasti, cairan nanah di dasar Jahannam, hingga nama sebuah lembah yang sangat dalam di neraka, yang secara keseluruhan menggambarkan puncak dari kebinasaan dan kehancuran.
Mengenai frasa "mereka menulis kitab dengan tangan mereka sendiri", Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini menyasar golongan dari kalangan Yahudi yang menjadi penyeru kesesatan dengan kedustaan atas nama Allah serta memakan harta manusia secara batil. Al-Biqāʿī menambahkan bahwa penggunaan kata sambung tertentu dalam redaksi ayat ini mengisyaratkan betapa buruk dan tercelanya kedustaan tersebut serta jauhnya derajat mereka dari nilai-nilai kebaikan.
Keberanian mereka semakin tampak nyata ketika mereka dengan sengaja berdusta lalu mengatakan bahwa tulisan buatan tangan mereka itu berasal dari sisi Allah Yang Maha Agung. Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa meskipun para pendeta tersebut diamanati untuk menjaga Kitab Allah, mereka justru mengkhianati amanat itu dengan mengubah dan menggantinya secara sengaja.
Motivasi di balik perbuatan tercela tersebut adalah untuk memperoleh keuntungan materi yang sangat sedikit. Al-Saʿdī menjelaskan bahwa seluruh dunia dari awal hingga akhir hakikatnya bernilai sangat kecil, namun mereka justru menjadikan kebatilan sebagai jaring untuk memperdaya manusia demi materi. Akibatnya, mereka melakukan kezaliman ganda, yaitu mengaburkan ajaran agama yang benar dan merampas harta manusia dengan cara yang paling batil, yang dosanya jauh lebih besar daripada sekadar mencuri atau merampas secara fisik.
Sebagai penutup, pengulangan kata "wail" pada akhir ayat menunjukkan penekanan yang luar biasa terhadap beratnya siksaan yang akan mereka terima. Ibnu Katsir dan al-Saʿdī sepakat bahwa pengulangan tersebut mewakili dua jenis azab yang berbeda, yakni siksaan akibat perbuatan menulis kebatilan dan siksaan akibat memakan harta hasil kejahatan tersebut.
Ayat ini pada akhirnya menjadi peringatan abadi bagi setiap orang yang mengemban amanah ilmu agar tidak memperdagangkan agama demi kepentingan dunia, serta menegaskan bahwa segala bentuk manipulasi atas nama Tuhan akanmendapat balasan azab yang paling pedih di akhirat kelak.
(zhd)