Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Ahad, 25 Oktober 2026
home masjid detail berita

Tafsir Ayat 74 Surat Al-Baqarah: Ketika Hati Manusia Lebih Keras dari Batu Karang

ahmad zuhdi Ahad, 25 Oktober 2026 - 09:52 WIB
Tafsir Ayat 74 Surat Al-Baqarah: Ketika Hati Manusia Lebih Keras dari Batu Karang
LANGIT7.ID-Jakarta; -

Ayat ke-74 dari Surat al-Baqarah merupakan kelanjutan langsung dari narasi kisah sapi betina Bani Israil serta mukjizat dihidupkannya kembali korban pembunuhan. Kendati Allah ﷻ telah memperlihatkan mukjizat yang sangat agung—di mana jasad yang mati dapat hidup kembali untuk menunjuk pembunuhnya—ayat ini justru merekam kenyataan pahit bahwa hati sebagian Bani Israil tetap keras dan enggan menerima kebenaran.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةًۭ ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Baqarah: 74).

Imam al-Ṭabarī dalam Jāmiʿ al-Bayān menjelaskan bahwa sasaran kecaman ayat ini adalah kelompok kafir dari kalangan Bani Israil, khususnya para keponakan korban yang tega berdusta dan menutup mata setelah menyaksikan langsung bukti kebenaran. Ibnu Katsīr menegaskan pula bahwa ayat ini memuat fungsi teguran dan kecaman keras atas pembangkangan mereka, sekaligus memegang peranan krusial sebagai peringatan abadi tentang bahaya laten penyakit hati yang membatu serta menggambarkan bagaimana sebagian benda mati ciptaan Allah justru memiliki ketundukan yang lebih mulia ketimbang manusia yang membangkang.



Mengenai analisis per penggalan ayat, Imam al-Ṭabarī menguraikan makna kebahasaan kata qasat sebagai kekeringan, ketebalan, dan kekokohan yang menyerupai batu. Adapun frasa "setelah itu" merujuk pada momentum emas tatkala Allah ﷻ menghidupkan kembali jasad korban pembunuhan yang sebelumnya diperselisihkan oleh mereka.



Ibnu Katsir memperkuat penjelasan tersebut dengan meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA bahwa para keponakan korban sempat bersumpah palsu mendustakan kebenaran, padahal mereka berdiri tepat di hadapan mayat yang baru saja berbicara mengungkap identitas pembunuh. Peristiwa ini menunjukkan bahwa menyaksikan mukjizat kasat mata secara langsung tidak akan menjamin hidayah jika seseorang telah mengunci pintu hatinya dari kebenaran.



Al-Qur'an kemudian mengabadikan perumpamaan yang sangat tajam, di mana hati yang membangkang dianalogikan bagaikan batu karang yang tidak pernah bisa melunak. Ibnu Kathīr mengaitkan konteks ini dengan peringatan Allah kepada umat Nabi Muhammad ﷺ dalam QS Al-Hadid ayat 16 agar tidak menyerupai gaya hidup kaum terdahulu yang membiarkan hati mereka mengeras akibat berlalunya masa yang panjang tanpa dzikrullah.



Penggalan berikutnya menyoroti paradoks moral yang luar biasa karena Allah ﷻ membeberkan tiga tingkatan kualitas batu yang jauh lebih mulia daripada hati yang membangkang, mulai dari batu yang memancarkan aliran sungai besar, batu yang terbelah hingga mengeluarkan mata air, sampai batu yang meluncur jatuh dari atas ketinggian semata-mata karena rasa takut kepada Allah ﷻ.



Syaikh al-Saʿdī dalam Taysīr al-Karīm al-Raḥmān menekankan bahwa penyebutan variasi batu tersebut membuktikan betapa batu-batu keras di alam semesta pun masih memiliki sifat tunduk dan patuh kepada Sang Pencipta, sementara Abū Ḥayyān al-Gharnāṭī menegaskan bahwa fenomena terpancarnya air dari bebatuan tersebut merupakan realitas empiris yang benar-benar telah terwujud.



Ayat ini ditutup dengan kalimat ancaman yang tegas bahwa Allah ﷻ tidak pernah lengah terhadap segala gerak-gerik perbuatan hamba-Nya. Menurut Syaikh al-Saʿdī, penutup ini berfungsi ganda sebagai peringatan keras bagi para pembangkang bahwa seluruh kedustaan dan kekerasan hati mereka pasti akan dibalas, sekaligus menjadi pengingat bagi orang beriman agar senantiasa mawas diri dalam setiap amal perbuatan.



Secara keseluruhan, rangkaian ayat ini melahirkan sejumlah faidah yang sangat fundamental bagi kehidupan seorang Muslim. Pertama, peristiwa Bani Israil membuktikan secara empiris bahwa menyaksikan mukjizat atau keajaiban kasat mata tidak otomatis melunakkan hati seseorang jika jiwanya sudah tertutup dari hidayah. Kedua, ketundukan benda mati seperti batu menunjukkan bahwa manusia yang membangkang berada pada derajat moral yang lebih rendah daripada batu karang.



Ketiga, tindakan para keponakan korban yang tetap bersumpah palsu di hadapan mayat yang hidup kembali menegaskan bahwa bentuk kedustaan paling fatal adalah menolak kebenaran yang sudah terang benderang di depan mata. Keempat, peringatan lintas zaman dalam ayat ini menuntut umat Islam untuk senantiasa menjaga kelembutan hati dan mencegah diri dari pengerasan spiritual akibat lalai mengingat Allah.



Kelima, penutup ayat menjadi landasan teologis agar setiap Muslim selalu menghadirkan kesadaran bahwa segala amal lahir maupun batin berada dalam radar pengawasan Allah ﷻ yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Ahad 25 Oktober 2026
Imsak
04:01
Shubuh
04:11
Dhuhur
11:40
Ashar
14:52
Maghrib
17:49
Isya
18:59
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan