LANGIT7.ID, Jakarta; - Surat Al-Baqarah ayat 72 berada di tengah rangkaian kisah sapi betina Bani Israil yang merentang dari ayat 67 hingga 74. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa narasi ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan ayat-ayat sebelumnya mengenai pelanggaran hari Sabtu.
وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًۭا فَٱدَّٰرَْٰٔتُمْ فِيهَا ۖ وَٱللَّهُ مُخْرِجٌۭ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (QS Al-Baqarah: 72).
Kisah tersebut bermula dari peristiwa pembunuhan seorang laki-laki di kalangan Bani Israil, yang kemudian mendorong Allah SWT memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi betina demi mengungkap identitas sang pembunuh yang sebenarnya. Ayat ini memuat dimensi teologis yang amat mendalam, di mana Allah memperlihatkan kekuasaan mutlak-Nya dalam menghidupkan kembali orang yang sudah mati sebagai bukti nyata bagi kaum yang mengingkari hari kebangkitan.
Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa peristiwa menghidupkan korban terbunuh ini menjadi dalil tak terbantahkan bahwa Dzat yang mampu menghidupkan satu jiwa pasti berkuasa membangkitkan seluruh umat manusia kelak.
Frasa awal ayat yang berbunyi "Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang jiwa" merekam kronologi sosial yang pelik. Berdasarkan riwayat dari Ibn ʿAbbās yang dicantumkan oleh al-Ṭabarī, peristiwa tersebut terjadi tatkala kaum Bani Israil saling tuduh-menuduh mengenai siapa pelaku pembunuhan di tengah mereka.
Dalam riwayat Mujāhid yang diriwayatkan oleh Ibn Abī Ḥātim, terungkap bahwa korban pembunuhan tersebut adalah pemilik sapi yang dibunuh oleh seseorang, lalu mayatnya sengaja dilemparkan di depan pintu kaum yang lain untuk mengelabui publik. Al-Baghawī menambahkan detail bahwa pelaku sebenarnya adalah keponakan korban sendiri yang berkeinginan untuk segera menguasai harta warisan.
Setelah meletakkan mayat di perkampungan lain, si pelaku ikut bergabung menuntut balas dan menuduh penduduk setempat sebagai pembunuhnya. Peristiwa pelik ini terjadi sebelum disyariatkannya hukum qasāmah di dalam Kitab Taurat.
Kekusutan kasus ini membuat Nabi Musa alaihissalam mengalami kesulitan hingga Allah menurunkan perintah penyembelihan sapi. Ketika Nabi Musa menyampaikan titah tersebut, kaum Bani Israil justru meresponsnya dengan nada sinis dan menuduh sang nabi sedang mempermainkan mereka. Ibn ʿAbbās menjelaskan bahwa kerumitan itu sebenarnya lahir dari sikap mereka sendiri.
Seandainya mereka langsung menyembelih sapi jenis apa saja yang mereka temui tanpa banyak bertanya, syarat itu sudah terpenuhi. Namun, karena mereka terus-menerus mempersulit dan memberat-beratkan diri melalui berbagai pertanyaan yang tidak perlu, Allah pun memperberat beban mereka. Sikap ini mencerminkan tabiat buruk umat terdahulu yang kerap membantah dan enggan tunduk secara mutlak kepada instruksi kenabian.
Kelanjutan kisah ini menggambarkan betapa teliti dan adilnya kehendak Allah dalam menyingkap kebenaran. Sebagaimana ditegaskan dalam penggalan ayat "Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan", segala upaya penutupan kejahatan yang dilakukan oleh sang pembunuh sama sekali tidak luput dari pengawasan-Nya.
Al-Shawkānī meriwayatkan bahwa setelah mereka menyembelih sapi yang dimaksud dan memukulkan sebagian organ tubuh sapi itu ke jasad korban, sang korban seketika bangkit dari kematiannya. Ketika ditanya mengenai siapa yang merenggut nyawanya, korban menunjuk keponakannya sendiri sebagai pelaku sebelum akhirnya kembali wafat. Konsekuensi hukum pun ditegakkan di mana sang pembunuh kehilangan hak warisnya atas harta korban.
Al-Biqāʿī memberikan analisis mendalam mengenai kaitan sosio-historis antara kisah ini dengan ayat pelanggaran hari Sabtu. Menurutnya, sikap Bani Israil yang gemar mempermudah hal yang dilarang—seperti tergesa-gesa melanggar larangan hari Sabtu demi mendapatkan ikan—berbanding terbalik dengan sikap mereka yang sangat berbelit-belit dan lamban ketika diperintahkan untuk melakukan satu hal yang mudah demi menyelamatkan atau menegakkan keadilan atas satu nyawa.
Selain itu, pemilihan media daging sapi dalam mukjizat ini mengandung hikmah pendidikan tauhid yang besar, yakni untuk mengikis sisa-sisa pengagungan terhadap patung anak sapi yang sempat melekat di hati mereka akibat pengaruh peradaban Mesir kuno.
Dari keseluruhan peristiwa agung ini, tersimpan berbagai pelajaran hidup yang sangat berharga bagi umat manusia. Perilaku Bani Israil yang gemar berbantah-bantahan menunjukkan bahaya sikap mempersulit diri dalam menjalankan ajaran agama, di mana ketidakpatuhan awal berujung pada beban syariat yang semakin berat.
Di sisi lain, ayat ini mengokohkan akidah Islam tentang kekuasaan mutlak Allah atas kehidupan dan kematian. Penyingkapan misteri pembunuhan tersebut membuktikan bahwa tidak ada kejahatan dan rahasia tertutup yang mampu menghindari jangkauan keadilan Ilahi. Pada akhirnya, kisah ini berfungsi sebagai teguran keras terhadap kerasnya hati manusia yang kerap lalai meskipun telah disajikan berbagai bukti kebesaran dan mukjizat di hadapan mata mereka.
(zhd)