home masjid

Kajian Tafsir: Larangan Menumpahkan Darah dan Pengusiran

Rabu, 04 November 2026 - 06:05 WIB
Kajian Tafsir: Larangan Menumpahkan Darah dan Pengusiran
Ayat kedelapan puluh empat dari Surat Al-Baqarah ini hadir sebagai kesinambungan dari kecaman Allah terhadap Bani Israil. Setelah sebelumnya mengingatkan mereka pada janji-janji agung tentang tauhid dan kebajikan, ayat secara spesifik menyoroti perjanjian lain yang dilanggar, yakni larangan menumpahkan darah sesama serta larangan mengusir kerabat dari tanah kelahiran.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَٰقَكُمْ لَا تَسْفِكُونَ دِمَآءَكُمْ وَلَا تُخْرِجُونَ أَنفُسَكُم مِّن دِيَٰرِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنتُمْ تَشْهَدُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. (QS Al-Baqarah: 84).

Berdasarkan catatan para mufassir seperti Ibnu Katsīr, teguran ini berakar dari realitas historis perilaku suku-suku Yahudi di Madinah yang kerap bersekutu dengan kelompok kabilah penyembah berhala yang saling bertikai, sehingga mengabaikan ketentuan suci yang telah digariskan dalam kitab mereka sendiri.

Pemaparan mengenai frasa pengamalan janji dijabarkan secara mendalam oleh Imam al-Ṭabarī melalui penjelasan gramatikal dan kontekstual. Ketika Allah melarang mereka menumpahkan darah dan mengusir sesama, redaksi yang digunakan menggunakan kata "diri-diri kamu" alih-alih orang lain.

Para mufassir sepakat bahwa redaksi ini menyiratkan makna filosofis yang sangat kuat, bahwa melukai atau membunuh sesama anggota masyarakat yang terikat dalam satu keimanan sama halnya dengan menghancurkan diri sendiri, sebab hubungan persaudaraan dalam ikatan iman memposisikan seluruh umat Islam bagaikan satu jasad yang utuh.

Analisis lebih lanjut diperkaya oleh penjelasan al-Baghawī dan al-Biqā'ī yang menguraikan berbagai bentuk pelanggaran yang kerap dilakukan oleh kaum Bani Israil. Mulai dari kebiasaan berperang melawan saudara sesama keyakinan hingga menciptakan permusuhan yang memaksa tetangga mereka kehilangan tempat tinggal. Ayat ini memperlihatkan bagaimana sebuah ikatan perjanjian atau mītsāq yang telah diikrarkan dengan penuh kesadaran dan disaksikan oleh berbagai tanda kebesaran Ilahi akhirnya dikhianati demi kepentingan kelompok semata.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya