Tujuan Diturunkannya Al-Qur'an: Mengeluarkan Manusia dari Kegelapan Menuju Cahaya
Ahmad zuhdi
Senin, 09 November 2026 - 06:14 WIB
Tujuan Diturunkannya Al-Qur'an: Mengeluarkan Manusia dari Kegelapan Menuju Cahaya
Surat Ibrahim merupakan surah Makkiyyah yang terdiri dari lima puluh satu ayat, sebagaimana ditegaskan oleh al-Baghawī dalam kitab tafsirnya. Ayat pertama dari surah ini dibuka dengan rangkaian huruf muqaṭṭa'āt (Alif Lām Rā') yang langsung diikuti oleh keterangan mengenai al-Qur'an sebagai kitab agung yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS Ibrahim (إبراهيم) : 1).
Berkenaan dengan makna huruf muqaṭṭa'āt, al-Ṭabarī menyatakan bahwa penjelasan tersebut telah tuntas dibahas sebelumnya, sementara Ibnu Katsir merinci berbagai pandangan ulama mulai dari menyerahkan ilmunya mutlak kepada Allah ﷻ hingga pandangan yang menafsirkannya sebagai nama surah atau pembuka firman-Nya.
Di sisi lain, al-Shanqīṭī menguatkan argumen induktif bahwa huruf-huruf tersebut berfungsi untuk menegaskan kemukjizatan al-Qur'an yang selalu diiringi dengan pembelaan terhadap kebenarannya.
Ayat ini merumuskan tujuan paling fundamental dari diturunkannya al-Qur'an kepada manusia, yakni "agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya" dengan izin Tuhan mereka. Al-Ṭabarī dan al-Baghawī menafsirkan proses pengeluaran tersebut sebagai upaya membimbing manusia dari pekatnya kesesatan dan kekufuran menuju cahaya keimanan yang terang.
Al-Sa'dī memperluas makna kegelapan mencakup kebodohan, akhlak buruk, serta segala bentuk kemaksiatan, sementara cahaya dimaknai sebagai ilmu pengetahuan, keimanan, dan budi pekerti yang luhur. Selain itu, al-Ālūsī mencatat bahwa penyandaran kata kerja pengeluaran kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui bentuk khitab menunjukkan adanya unsur pengagungan (tafkhīm) dan pemuliaan yang sangat agung bagi kedudukan beliau.
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ الٓر ۚ كِتَٰبٌ أَنزَلْنَٰهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ ٱلنَّاسَ مِنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ بِإِذْنِ رَبِّهِمْ إِلَىٰ صِرَٰطِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ
Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS Ibrahim (إبراهيم) : 1).
Berkenaan dengan makna huruf muqaṭṭa'āt, al-Ṭabarī menyatakan bahwa penjelasan tersebut telah tuntas dibahas sebelumnya, sementara Ibnu Katsir merinci berbagai pandangan ulama mulai dari menyerahkan ilmunya mutlak kepada Allah ﷻ hingga pandangan yang menafsirkannya sebagai nama surah atau pembuka firman-Nya.
Di sisi lain, al-Shanqīṭī menguatkan argumen induktif bahwa huruf-huruf tersebut berfungsi untuk menegaskan kemukjizatan al-Qur'an yang selalu diiringi dengan pembelaan terhadap kebenarannya.
Ayat ini merumuskan tujuan paling fundamental dari diturunkannya al-Qur'an kepada manusia, yakni "agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya" dengan izin Tuhan mereka. Al-Ṭabarī dan al-Baghawī menafsirkan proses pengeluaran tersebut sebagai upaya membimbing manusia dari pekatnya kesesatan dan kekufuran menuju cahaya keimanan yang terang.
Al-Sa'dī memperluas makna kegelapan mencakup kebodohan, akhlak buruk, serta segala bentuk kemaksiatan, sementara cahaya dimaknai sebagai ilmu pengetahuan, keimanan, dan budi pekerti yang luhur. Selain itu, al-Ālūsī mencatat bahwa penyandaran kata kerja pengeluaran kepada Nabi Muhammad ﷺ melalui bentuk khitab menunjukkan adanya unsur pengagungan (tafkhīm) dan pemuliaan yang sangat agung bagi kedudukan beliau.