Strategi Mata Elang dan Penerapan Agromaritim 4.0 Menuju Kemandirian Pangan
Mahmuda attar hussein
Selasa, 02 November 2021 - 17:30 WIB
Ilustrasi strategi kemandirian pangan. Foto: Pixabay
Mahasiswa diminta memiliki perspektif mata elang dalam merumuskan strategi kemandirian pangan lokal untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Sebagai generasi milenial, para mahasiswa harus memandang sejauh mungkin terkait potensi pangan Indonesia.
Prof Hadi Susilo Arifin, Guru Besar IPB University bidang Ekologi Lanskap dan Manajemen Lingkungan PB University itu menyebut, cara pandang tersebut biasanya diwujudkan dalam road map. Menurutnya, pangan lokal harus diasumsikan sebagai pangan yang dihasilkan di sekitar masyarakat sendiri.
Prof Hadi menyebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, saat Indonesia mencapai kemerdekaan 100 tahun atau pada tahun 2045 mendatang, penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 319 juta jiwa.
Baca juga: Konsep Hidroponik Jadi Solusi atas Keterbatasan Lahan
Dengan pesatnya pertumbuhan penduduk ini berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan primer. Kebutuhan primer tersebut tidak hanya bersumber dari tanaman namun juga ternak.
“Peningkatan populasi, perubahan pola hidup, kebutuhan produksi yang ramah lingkungan, adanya tranparansi dan keterlacakan pada setiap sistem pertanian, serta adanya perdagangan bebas atau global pada akhirnya konsumen akan menentukan aturan-aturan atau regulasi kepada negara produsen,” ujar Prof Hadi Susilo Arifin, dalam keterangan tertulis, Selasa (2/11).
Bahkan, katanya, masyarakat kota saat ini enggan makan sembarangan dan semakin sadar tentang gaya hidup sehat. Dengan demikian, apabila melihat situasi masa depan ketahanan pangan Indonesia, dinilai masih rentan terhadap kekurangan pangan.
Prof Hadi Susilo Arifin, Guru Besar IPB University bidang Ekologi Lanskap dan Manajemen Lingkungan PB University itu menyebut, cara pandang tersebut biasanya diwujudkan dalam road map. Menurutnya, pangan lokal harus diasumsikan sebagai pangan yang dihasilkan di sekitar masyarakat sendiri.
Prof Hadi menyebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, saat Indonesia mencapai kemerdekaan 100 tahun atau pada tahun 2045 mendatang, penduduk Indonesia akan mencapai sekitar 319 juta jiwa.
Baca juga: Konsep Hidroponik Jadi Solusi atas Keterbatasan Lahan
Dengan pesatnya pertumbuhan penduduk ini berimplikasi pada meningkatnya kebutuhan primer. Kebutuhan primer tersebut tidak hanya bersumber dari tanaman namun juga ternak.
“Peningkatan populasi, perubahan pola hidup, kebutuhan produksi yang ramah lingkungan, adanya tranparansi dan keterlacakan pada setiap sistem pertanian, serta adanya perdagangan bebas atau global pada akhirnya konsumen akan menentukan aturan-aturan atau regulasi kepada negara produsen,” ujar Prof Hadi Susilo Arifin, dalam keterangan tertulis, Selasa (2/11).
Bahkan, katanya, masyarakat kota saat ini enggan makan sembarangan dan semakin sadar tentang gaya hidup sehat. Dengan demikian, apabila melihat situasi masa depan ketahanan pangan Indonesia, dinilai masih rentan terhadap kekurangan pangan.